Saatnya Kemiskinan Pikiran Dipenjarakan

Suatu masa Rene Descartes pernah berkata Cogito Ergo Sum, yang artinya aku berpikir maka aku ada. Eksistensi manusia terhadap Tuhan, alam, dan sosial pada dasarnya ditadah dalam sebuah mangkok pikiran. Jadi sumbu dari api kehidupan sebenarnya adalah apa yang kita mampu pikirkan.

Tidak sedikit orang berpedapat bahwa kesejahteraan jiwa adalah fondasi awal manusia menemukan kehidupan. Oleh karena itu, teknologi, ekonomi, dan informasi menjadi gigi penggerak hidup. Namun, sinkronisasi alam ternyata jauh lebih kompleks. Molekul-molekul dalam tubuh kita tidak dapat mengabsorb semuanya dengan sempurna. Akibatnya, kemudahan melalui teknologi, gaya hidup baru faktor ekonomi, dan overload informasi justru menjadikan manusia miskin berpikir.

Teknologi selalu mendapat porsi yang lebih besar dari semuanya. Bukan karena manusia lahir dari teknologi, tapi justru karena manusia bertumbuh dari teknologi. Masyarakat metropolitan yang selalu memiliki rasa haus keingintahuan yang lebih besar, mencari informasi dan kekuasaan melalui benda ini, yaitu teknologi.
Kecanggihan teknologi memang membuat hidup menjadi lebih mudah, tapi pesatnya perkembangan teknologi, di sisi lain, menjadikan manusia sebagai budak teknologi. Itulah mengapa dikatakan kita tidak dapat mengabsorb semuanya. Keinginan untuk mendapatkan secara instan, ketergantungan untuk selalu tampil mutakhir, menjadi kunci mengapa kemiskinan berpikir itu ada.

Kemiskinan berpikir yang dimaksud bukan karena tidak bisa membaca dan menulis. Hal itu sudah menjadi terlalu tua untuk diperdebatkan. Kemiskinan berpikir yang dimaksud adalah keengganan untuk menata hal-hal abstrak dan menuangkannya menjadi sebuah gagasan kreatif. Itulah yang sebenarnya kini terpenjara dalam diri manusia itu sendiri. Manusia akan menjadi sangat ahli apabila mereka dapat mengabsorb pesatnya kemajuan dengan holistika berpikir yang sehat. Namun, itulah masalahnya, sebagian besar mereka gagal. Lalu kini kegagalan itu menjadi semacam budaya yang subur.

Ekonomi yang dihadapkan pada status sosial telah ada sejak lama, bahkan sejak zaman antik. Namun, moderenisasi membawa pengaruh lebih besar terhadap satus sosial dengan memberikan ekspektasi yang ternyata sulit dipenuhi. Akibat gagalnya pemenuhan ekspektasi, manusia mulai frustasi. Status sosial dalam masyarakat seperti pendidikan, kekayaan, dan status menjadi semakin menyeramkan. Pendidikan menjadi konstitusi bisnis, laba orientasi utama menjadi kaya, dan praktik mafia demi mendapatkan status.

Basis informasi kini menjadi semacam labirin tanpa ujung. Overloading information menghadirkan konten yang meluap begitu saja, menjadi bencana, dan melahirkan banyak informasi sampah. Pesatnya informasi sulit diikuti oleh pikiran sebagian besar orang. Pemberitaan yang tidak akurat, mengutamakan sensasi, dan melanggar etika jurnalistik kini banyak tersebar. Lalu, muncul pertanyaan retorik tentang seberapa banyak orang yang tahu mengenai hal tersebut. Overloading information, keinginan besar untuk tahu, dan kesulitan untuk memilih telah menjadikan manusia miskin dalam berpikir.

Konsep manusia pada dasarnya sederhana. Kebutuhan, yaitu rasa keingintahuan yang besar membawa manusia pada perubahan besar yang menjadikan konsep semakin rumit. Kebutuhan akan menjadi sebuah kunci di mana manusia mengembangkan suatu kemajuan. Namun, kemajuan yang tidak sejajar dengan pikiran manusia akan menghasilkan kemiskinan berpikir. Manusia harus sadar di mana kemampuannya untuk berhenti pada satu titik dan memulainya pada saat yang tepat, dengan kata lain hal itu disebut sebagai sebuah proses. Pencapaian instan, bukan solusi terbaik menjadikan manusia maju dalam berpikir. Inilah saatnya, kemiskinan pikiran dipenjarakan!

Oleh Lupita Wijaya

2 Tanggapan to “Saatnya Kemiskinan Pikiran Dipenjarakan”

  1. Lupita…
    ucapan Rene Descartes bukannya “Cogito ergo sum” ?
    (Kamu nulisnya “Cognito ergo sum”)
    correct me if I’m wrong :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.