Gara-gara Kecoak
Gara-gara Kecoak
Senin itu pertama kalinya Lila pergi les ke rumah gurunya. Rumah itu berdiri sudut gang yang tidak terlalu luas, berwarna putih, dan banyak tanaman di sekeliling rumah tersebut. Lila meletakkan sepeda merahnya persis di sebelah sepeda biru yang berada di halaman depan. Pagi itu cukup ramai dengan keributan murid-murid les yang lain.
Pak Santo, guru les Lila yang mengajar Matematika di sekolahnya, terkenal galak dan tegas tetapi sebagian besar anak-anak didiknya mendapat peringkat di kelas mereka. Makanya, Ibunya Lila pun turut mengeleskan anaknya dengan Pak Santo. Sebenarnya Lila merasa takut kepada Pak Santo. Lila tidak pernah melihatnya tersenyum dan beliau selalu memberikan soal latihan yang sangat banyak. Memang penjelasan Pak Santo sangat mudah dimengerti. Hanya saja, melihat kedua alis beliau yang berkerut dan menyatu akibat kesalahan pada soal latihan yang Lila kerjakan, membuat gadis kecil itu merasa takut.
Lila duduk di bagian pojok. Di ruangan yang tidak begitu besar itu hanya terdapat satu meja pendek yang lebar. Anak-anak duduk di lantai dengan karpet tipis yang robek di sana-sini. Meja itu memang pendek dan berwarna putih dengan cat yang tidak rata. Namun, Lila merasa sangat nyaman di sana.
Pak Santo duduk di sebelah Lila. Sedapat mungkin ia konsentrasi pada soal latihan di depannya sementara Pak Santo sibuk menjelaskan cara mencongkak kepada anak lain.
Tiba-tiba ada sesuatu yang melintas di dekat tempat duduknya. Ukurannya kecil dan berwarna coklat. Sesaat setelah menyadari sesuatu yang melintas tadi, Lila langsung terperanjat dan melompat ke benda yang cukup tinggi di dekatnya karena takut kecoak itu mengejarnya. Satu-satunya benda yang cukup tinggi itu ternyata ialah meja putih Pak Santo. Berarti ia berdiri di atas meja, tepat di hadapan Pak Santo!
Jantungnya berdegup kencang menyadari apa yang ia lakukan karena refleks. Seisi ruangan menatap Lila dengan kaget.
Tiba-tiba terdengar suara tawa serak Pak Santo. Guru galak itu tertawa kencang melihat refleks dan ekspresi takut Lila. Semua gara-gara kecoak, akhirnya Lila melihat Pak Santo tertawa. Padahal selama ini Lila tidak pernah melihat Pak Santo tersenyum, apalagi tertawa.
“Lila kok segitu takutnya sama kecoak? Kalau begitu jangan pakai kamar mandi di belakang ya.“ ujar Pak Santo tertawa terbahak-bahak.
Lupita Wijaya
Poris Garden Agustus 2010
Agustus 30, 2010 pada 6:49 am
hahaha… dasar kecoak genit…

salam superhangat
September 2, 2010 pada 11:58 am
salam
Agustus 30, 2010 pada 3:17 pm
kalau saya ndak takut sama kecoak
tapi geli aja
perasaan kecoak gak ada takutnya sama manusia ya
hehhehe
September 2, 2010 pada 11:58 am
Kecoak berani sama manusia yg takut sama dia. hehehe
Agustus 31, 2010 pada 5:37 pm
Wah, kalau begitu tiap les bawa kecoa saja mbak,…ternyata saya baru tahu satu lagi fungsi kecoa nih yaitu membuat tertawa orang yang tidak pernah senyum, hehe
September 2, 2010 pada 11:59 am
Itu pengalaman memalukan saya waktu SD
hehe
September 2, 2010 pada 5:27 am
ada hikmahnya juga ya kecoak itu. Orang yang terlihat menakutkan ternyata mudah tertawa dengan satu hal yang sepele
September 2, 2010 pada 11:59 am
Ya, mungkin Pak Santo jaga image sbg guru killer kali ya? hehe
September 10, 2010 pada 11:22 am
Hehehe, gara2 kecoa pak guru bisa tertawa juga.
Harap sesudah peristiwa itu, pak gurunya lebih mudah tersenyum dan terkesan ramah buat anak2.
Salam hangat, Mba.
Maret 2, 2011 pada 9:47 am
nice story…betul kata orang don’t judge a book by its cover!
salam kenal
Oktober 29, 2011 pada 1:28 am
hoho seru juga tuh..pengalaman pribadi ya?:D
Oktober 29, 2011 pada 10:55 am
Iya, pengalaman belasan tahun lalu