Hubungan Indonesia-Malaysia Kembali Memanas, Perang pun Terlontar?
Perselisihan Indonesa-Malaysia semakin pelik. Malaysia pun pada masa Presiden Soekarno telah dianggap sebagai antek imperialisme karena kedekatannya dengan Inggris sehingga ‘Gayang Malaysia’ pun sempat terjadi di tahun 60an.
Belakangan ini, media massa ramai menginformasikan berbagai tindakan Malaysia yang seperti menyulut api di atas minyak. Hubungan kedua negara ini memang sejak dulu diakui kurang harmonis terutama sejak konflik perebutan Pulau Sipadan, Ligitan, dan Ambalat. Tragis memang, tapi Indonesia kalah di keputusan final.
Berawal dari penjualan hak eksplorasi blok Ambalat yang kaya minyak oleh perusahaan minyak Malaysia, Petronas kepada perusahaan minyak Belanda, Shell. Indonesia merasa yakin kawasan blok Ambalat ini termasuk ke dalam wilayah NKRI, bahkan sebelumnya pemerintah RI sudah menjual hak eksplorasi minyak di kawasan ini kepada perusahaan minyak Unocal. Secara diplomatik, RI sudah melayangkan protes resmi kepada pemerintah Malaysia.
Namun, yang agak mengkhawatirkan,kekuatan militer kedua negara sudah mulai terlibat dalam konflik, meskipun dalam skala kecil. Saat ini ada tujuh kapal perang TNI AL yang berpatroli dikawasan konflik dengan dukungan beberapa pesawat pengintai. Patroli, sekaligus unjuk kekuatan militer itu dilakukan menyusul adanya pesawat AL Malaysia yang berpatroli di wilayah RI. Dalam perkembangannya sempat terjadi ketegangan antara kedua pihak, pada saat KRI Rencong TNI ALterlibat manuver dengan sebuah kapal perang Malaysia.
Banyak pihak yang menuntut ketegasan Presiden. Aksi protes terjadi di mana-mana, bahkan kecaman pedas terlontar tanpa ragu di media.
Menyusul penangkapan tiga petugas DKP (Dinas kelautan dan Perikanan) oleh Diraja Malaysia seakan membuka kembali luka lama, terlebih ketika kejadian tersebut tidak berbeda jauh dengan hari kemerdekaan Indonesia. Tidak sedikit pihak yang bertanya-tanya mengapa ketiga petugas tersebut malah melaporkan hal-hal positif setelah penangkapan yang dilakukan oleh Diraja Malaysia? Aneh tapi nyata!
Kecaman terhadap Malaysia kini dilontarkan terbuka oleh sebagaian besar rakyat Indonesia. Bahkan aksi nekat menginjak-injak bendera Malaysia daan melempari Kantor Dubes Malaysia dengan kotoran manusia pun terjadi. Hal ini yang sebenarnya mengecewakan saya.
Sebagai negara yang berpendidikan dan selalu menggemakan agaman seharusnya ‘mereka’ sadar bahwa perbuatan tersebut sangat tidak pantas. Marah boleh saja, kecewa pasti, kecaman tidak heran, tapi mengapa mesti menginjak-injak bendera dan melemparkan kotoran? Bukankah dengan begitu kita sama saja dengan mereka yang menginjak kedaulatan Indonesia?
Jika memang kalian memilih untuk adu kekuatan militer, pikirkan dulu. Sudah cukupkah kemampuan militer kita? Ikuti berita setiap hari, apa saja masalah di Indonesia yang harus segera ditindak. Harian Kompas Senin, 23 Agustus 2010 pun masih menulis ‘Indonesia Butuhkan Ahli Perang Semesta’. Optimalkan dulu fungsi pertahanan.
Perang bukan satu-satunya cara menyelesaikan konflik. Lebih baik mengutamakan kasus korupsi, infrastruktur (Jakarta yang nyaris lumpuh), operasi pasar, kebijakan pangan, dll daripada meributkan soal perang, perang, dan perang. Meskipun perang, siapa yang berani meyakinkan bahwa setelah perang usai konflik tidak akan terulang? Pikirkan berapa kerugian yang akan diderita. Kerugian fisik, kerugian ekonomi, kerugian emosi, nyawa, dan waktu. Pikirkan!
Pilihan tersebut tentunya sangat reaktif. Tengoklah langkah diplomasi, cara tersebut belum pernah dilakukan (dipikirkan sih pernah, tapi tidak ada aksi). Biar adil, minta pihak luar (Seperti PBB, ASEAN) untuk membantu menyatukan pendapat dan jalan keluar. Ingat, Indonesia tidak sendirian. Jika memang perang tak terhindari maka kerugian bukan hanya didderita oleh Indonesia dan Malaysia saja, tetapi negara-negata ASEAN lainnya.
Lupita Wijaya
24 Agustus 2010
Agustus 24, 2010 pada 1:52 pm
benar sekali, perang bukanlah jalan” satu”nya untuk memecahkan masalah, lebih baik pemerintah memikirkan pemecahan masalah tanpa masalah. Jangan sampai menyesal di kemudian nanti
Agustus 25, 2010 pada 1:09 pm
Jangan sampai menyesal (setuju sekali).
Terima kasih telah berkunjung & meninggalkan komentar
Agustus 24, 2010 pada 1:58 pm
wes ben do perang kalo ditinjau si malay emang bikin jengkel ya..duh teu kapok kapok nya..eta manehna kumaha pemerintah indo juga si yang kadang salah
Agustus 25, 2010 pada 1:10 pm
Kl bikin jengkel sih sangat
Agustus 24, 2010 pada 3:00 pm
Inti tulisan ini … *hati boleh panas kepala tetap dingin …
begitu kan pita? nice artikel ..
Agustus 25, 2010 pada 1:11 pm
Betul sekali
Terima kasih
salam hangat,
classically
Agustus 24, 2010 pada 3:34 pm
Yap, tidak seharusnya perang menjadi pilihan, sengketa itu kecil dan bisa diselesaikan secara diplomatik. Lha, buktinya yang ditangkap saja bicaranya baik.
Apapun saya mengecam tindakan Malaysia, tetapi tidak dengan serta merta menyulut api amarah yang berlebihan. Mbak Lupita benar, terlalu banyak masalah dalam negeri yang harus diprioritaskan!.
Agustus 25, 2010 pada 1:13 pm
Terima kasih Pak Aldy atas opini anda.
Sangat menarik berbagi informasi & diskusi dgn para sahabat bloger sekalian.
salam nusantara,
classically
Agustus 24, 2010 pada 3:55 pm
ini cuma masalah antar bangsa…bukan antar umat.. jangan jadikan hal ini sebagai masalah yang membutakan langkah kita. Yang salah negaranya bukan masyarakatnya.
Agustus 25, 2010 pada 1:13 pm
SETUJU!!
Agustus 24, 2010 pada 4:12 pm
jalur perang atau diplomasi?
untuk negara yang lemah dalam kekuatan militer, maka diplomasi adalah jalan yang ideal.
masalahnya nih, persoalan dalam negeri yang menyisahkan ketidak-puasan pada pemerintahan yang berjalan, ter”provokasi” oleh percikan konflik luar negeri.
ini menyinggung soal “harga diri bangsa” untuk kelompok nasionalis, saya rasa akan bersemangat untuk diajak konfrontasi jika sudah menyinggung soal batas NKRI.
untuk kelompok “demokrat” saya menduga akan lebih memilih jalur diplomasi.
memang, diplomasi akan menguras pikiran dan waktu yang lebih luas. jadi perlu kesabaran untuk memberikan pemahaman kepada rakyat sambil terus berupaya melakukan perbaikan di jalur diplomasi
Agustus 25, 2010 pada 1:15 pm
Yang penting perencanaan dan pelaksanaannya saja.
Habis tinggal itu pilihannya.
Diplomasi bkn jalan TERbaik, tapi jalan yg lebih baik.
salam hangat,
classically
Agustus 24, 2010 pada 6:03 pm
yayaya… Memeng perang bukan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah. Tapi apabila tidak mendapat titik temu dari permasalahan tersebut *kita harus siap untuk perang* perlengkapan dan senjata bukan halangan, kita negara tangguh dan pemberani terbukti dengan bambu runcing saja dulu kita berani melawan musuh yang bersenjata canggih… Heheheh
“tak ada rakyat suatu negara yang makmur akibat perang… ”
Salam
Agustus 25, 2010 pada 1:16 pm
Salam. Ya tentunya.. Tapi sebisa mungkin perang adalah pilihan terakhir..
Terima kasih telah berkunjung & meninggalkan komentar ^^
salam
Agustus 24, 2010 pada 11:00 pm
Saya setuju untuk lebih menghindari jalan perang. Sejarah dunia sudah menjadi logika yang cukup untuk alasan menghindari perang. Hanya, untuk sudut pandang lain, sementara ini saya belum bisa menambahkan pendapat soal ini, Mbak Lupita. Saya masih merasa perlu untuk melihat lebih jauh lagi persoalan ini. Oleh sebab itu, saya masih belum punya pendapat tentang langkah yang tepat untuk masalah ini saat ini. Mudah2an nanti ketemu.
Ini wacana yang gayeng, Mbak. Dan tulisan2 Mbak yang lainnya juga sangat menarik. Saya sudah baca. Penuh perhatian dengan masalah2 sosial kebangsaan…
Agustus 25, 2010 pada 1:18 pm
Tentu. Terima kasih banyak telah bersedia membaca posting-an saya & terlebih meninggalkan komentar konstruktif.
Senang dpt berbagi dgn para sahabat bloger ketika aspirasi diperlakukan kurang adil
salam
Agustus 24, 2010 pada 11:17 pm
Perang bukan jalan keluar utk menyelesaikan persoalan.
Berkunjung saja, Mba.
Agustus 25, 2010 pada 1:18 pm
terima kasih atas kunjungannya^^
Agustus 25, 2010 pada 2:36 am
di jaman sukarno dan suharto, politik luar negri kita amat berwibawa. di jaman ini mungkin perhatian pada politik luar negeri menjadi tidak fokus karena banyaknya faktor domestik yg harus dibenahi
Agustus 25, 2010 pada 1:19 pm
Mungkin karena kurangnya ketegasan pemerintah?
Tentunya kita sbg masyarakat Indonesia selalu mendoakan & mendukung pembangunan bangsa.
salam
Agustus 25, 2010 pada 2:50 am
betul mbak..saya juga suka sebal tu sm malaysia tapi daripada ribut terus mending kita perbaiki dulu yang ada.. tapi sih kalau udah keterlaluan mending diganyang aja wkwkw
Agustus 25, 2010 pada 1:20 pm
Itu kl sudah benar2 tdk ada jln keluar loh. hehehe
salam hangat
Agustus 25, 2010 pada 5:57 am
kalau orang jawa bilang malaysia itu “wis tuman”
Agustus 25, 2010 pada 1:20 pm
Wah, saya ndak ngerti. Saya orang Lampung soalnya. hehehehe
Agustus 25, 2010 pada 1:15 pm
seharusnya kejadian ini ga perlu terjadi kalo si malingsial ga macem macem dengan daerah perbatasan indonesia
hmmm
Agustus 26, 2010 pada 11:50 am
Sbg negara berdaulat pastinya ada saja tantangan untuk kita, Indonesia.
Agustus 25, 2010 pada 5:13 pm
Betul, masih banyak cara lain yang lebih diplomatis, elegan dan etis, dengan mengedepankan semangat kebersamaan sebagai bangsa serumpun.
SALAM Kenal , kunjungan balik, dari Kendari, Sultra.
Agustus 26, 2010 pada 11:50 am
salam kenal. terima kasih telah berkunjung
Agustus 25, 2010 pada 5:48 pm
mau gimana lagi.. sebagai rakyat kita hanya bisa mengelus dada..sampai kapan bangsa kita digituin terus..
salam kenal
Agustus 26, 2010 pada 1:25 am
Tidak harus perang secara terbuka
melainkan aksi nyata , statemen nyata dari presiden yang ditunggu2…
Agustus 26, 2010 pada 11:51 am
bkn sekedar statement, tapi aksi, tindakan
Agustus 26, 2010 pada 1:26 am
dasar. padahal mereka kan tetangga kok semakin berselsisih. padahal aku yang kuper aja nggak pernah bertengkar dengan tetanggaku. seharusnya mereka tidak berselisih. mereka kan sama-sama orang asia tenggara, ras melayu dan sama-sama bahasa indonesia. islam juga.
menurutku pemerintah malaysia mencolong kesempatan dengan mengolah lahan pulau-pulau yang tak terlah itu karena pemerintah Indonesia tidak mengurusi. pemerintah Indonesia kan di jakarta. mana sempat ngurusin, peduli sampai merawat. buktinya masih banyak pulau tak bernama, tak berpenghuni dan tak terolah. tak dijaga. buktinya kecolongan banyak dan lama tuh sampai penambangan hasil alam oleh pemerintah malaysia berhasil. membangun pertambangan kan lama?
pemerintah indonesia di jakarta sibuk ngurusin politik, gayus, korupsi makanya ngak sempat mikirin pulau di pojokan.
seandainya indonesia menang atas pulau-pulau itu tapi lalu dibiarkan jadi bagaimana?
Agustus 26, 2010 pada 11:51 am
Ya sisi itu ternyata jg hrs turut diperhitungkan ternyata.
Agustus 26, 2010 pada 7:26 am
Langkah diplomatik udah dilakukan, tapi tetep aja pelanggaran berlanjut lagi, kira-kira harus gimana lagi?
Agustus 26, 2010 pada 11:52 am
Langkah diplomatik belum dilakukan (harian Kompas, 26 Agustus 2010 & bbrp sumber lain red.)
Agustus 26, 2010 pada 7:29 pm
Menyelesaikan masalah dengan perang sama artinya emosi, kalau bisa diselesaikan dengan bijaksana dan damai kenapa tidak dilakukan. Denngan perang yangn korban juga orang-orang yang tidak tahu menahu bahkan boleh jadi orang yang tidak bersalah, kasihanilah mereka masih punya hak untuk merdeka memilih kebebasan hidup. Semoga perselisihan ini cepat terselesaikan dengan bijaksana, amin.
Agustus 27, 2010 pada 12:08 pm
amin….
Agustus 27, 2010 pada 7:27 am
Sampai kapanpun persilisihan itu tidak akan hilang…
mungkin sekarang reda, besok akan tersulut lagi…
perlu tindakan tegas yg lebih santun…
Agustus 27, 2010 pada 12:08 pm
setuju. perlu tindakan tegal yg lbh santun
Agustus 28, 2010 pada 8:29 am
Rasa nasionalisme memang terkoyak
Tapi bukan dengan cara melempar kotoran
Sedih deh jadinya
Agustus 29, 2010 pada 11:16 am
Demonstrasi boleh saja, selama tdk keluar dr kaidah sopan santun
Agustus 28, 2010 pada 6:17 pm
berkunjung lagi.. blom ada yang baru ya..? he he he he
baca-baca yang lain aja deh sambil nunggu yang baru, boleh kan…?
Salam
Agustus 29, 2010 pada 11:16 am
Ini baru mau di post lagi yg baru
Terima kasih telah berkunjung ^^
September 7, 2010 pada 12:56 am
diadakan diplomasi secara transparan dan terarah kemudian tidak ada jalan lain langkah perang adalah langkah terakhir setelah semua langkah untuk jalan damai buntu.