Sila Kelima Pancasila Semakin Memudar
Pasca perayaan ulang tahun Indonesia yang ke enam puluh lima, penyakit warga Indonesia belum juga sembuh. Yaitu, lupa Pancasila. Bukan kelupaan pada teoretisnya, tapi pada praktik. Hukum pun menjadi mandul sehingga sila kelima telah semakin terlupakan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebelum tercapainya sila kelima, maka sila pertama hingga keempat pun sulit mendapat tempat strategis di hati rakyat.
Terkuaknya kasus korupsi meyakinkan kita tentang gunung es merosotnya mutu peradaban bangsa Indonesia. Tak ada rasa takut dan rasa malu; kejujuran jadi barang mewah.
Taruhlah contoh kasus Gayus Tambunan. Kita terentak kaget. Akan tetapi, yang bikin lebih kaget, dalam suasana ”hari gini” ketika masalah suap disorot, ada hakim terima suap. Tidak seberapa, ”hanya” Rp 300 juta, tak ada arti dibandingkan Rp 28 miliar dalam kasus Gayus, sementara di saat bersamaan kita tertegun menyaksikan janda pahlawan plus nenek tua Mbah Soetarti dan Mbah Rusmini.
Ditilik dari kemerosotan mental, kenyataan pahitnya kita belum merdeka. Hukum kini tak bergigi, tak bertulang. Siapa lagi yang bisa dipercaya jika materi menjadi penguasa?
Banyak analisis tentang kondisi dan akibat guliran persoalan korupsi dibiarkan, termasuk ketegasan dan perilaku bersih praksis kekuasaan. Satu di antaranya disampaikan Albert Nolan dalam buku Jesus Today, A Spirituality of Radical Freedom: 2006.
Kondisi merosotnya peradaban kita tidak hanya ditandai budaya koruptif, tetapi juga praksis kekuasaan yang bersifat jual-beli, do ut des (saya beri agar engkau beri). Hal itu, misalnya, tampil dalam koalisi dalam kabinet, yang tidak didasarkan atas pertimbangan gerakan dari bawah, yakni kemaslahatan bersama dan keberpihakan kepada rakyat banyak, tetapi lebih pada semangat kerja do ut des.
Permasalahan ini bertambah pelik sebagaimana konflik tak dapat teratasi. Rakyat bingung mau mengadu pada siapa, mau percaya pada siapa. Jika ketahuan main suap, korup, dll bukannya memperbaiki, tapi kabur menjadi satu solusi, saling tuduh menjadi seperti pameran kekerasan. Bukan kekerasan fisik, tapi kekerasan batin di mana rakyat yang menyaksikan semakin kehilangan kepercayaan. Harga diri itu sulit dibangun. Jadi, jaga sebaik mungkin.
Kalau mencari keadilan bagai barang mewah, bagaimana mau menjanjikan kesejahteraan rakyat?
Oleh : Lupita Wijaya
Poris Garden, Tangerang 2010
Agustus 21, 2010 pada 1:04 pm
pemimpin, pejabat dan penegak hukumnya pada sibuk memperkaya diri sendiri hingga lupa tugas pokok masing-masing
Agustus 21, 2010 pada 2:28 pm
ramai janji juga
salam hangat
Agustus 21, 2010 pada 3:57 pm
Itulah wajah pemimpin kita kini, negara semakin carut marut.
pemimpin jadi pengamat amburadul …
Agustus 22, 2010 pada 1:06 pm
yup! terima kasih sdh berkunjung ke blogkku
Agustus 21, 2010 pada 5:24 pm
Mungkin bukan sila kelima saja yang semakin memudar hilang dari hati nurani bangsa Indonesia tapi semua makna yang terkandung di pancasila semakin hilang tak berbekas di negeri ini
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
Agustus 22, 2010 pada 1:07 pm
Betul, Pak. Saya setuju. Terima kasih sdh mampir & meninggalkan komen
salam hangat,
classically
Agustus 21, 2010 pada 6:03 pm
negeri ini akan sulit menyelenggarakan sila ke 5 jika pemimpinnya masih berlaku tidak sesuai ajaran agama dan tidak mengenal hukum yg sesungguhnya..
nice post sist..
salam, ^_^
Agustus 22, 2010 pada 1:07 pm
betul! trims sudah berkunjung & meninggalkan komentar..
salam bloger,
classically
Agustus 22, 2010 pada 1:54 pm
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
Mbak Lupita,
mungkin saya hanya bisa berdo’a agar keadilan tersebut bisa tercipta, walaupun tidak bisa sekarang dan sebelum ratu adil datang. Loh? ya, saya bekerja diperusahaan swasta, yang bisa saya lakukan hanya memperjuangkan kesejahteraan para karyawan saja. Kalau sudah menyangkut urusan republik, saya serahkan pada mereka yang berada dipemerintahan.
Agustus 23, 2010 pada 11:43 am
Semoga keadilan memang ada. Amin.
salam hangat,
classically
Agustus 22, 2010 pada 1:56 pm
Hai Classically..
Salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung.
Jika sulit untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh rukun dalam pancasila, maka kemerosotan dalam membangunkan semangat patriotisme juga semakin luntur. Oleh itu, kita harus fahami makna yang tersirat dan tersurat dalam kandungan rukun pancasila tersebut.
Salam mesra dan senang dapat menjalinkan persahabatan.
Agustus 23, 2010 pada 11:43 am
Terima kasih sdh berkunjung & meninggalkan komen.
Salam hangat,
classically
Agustus 22, 2010 pada 3:02 pm
senang membaca post ini
salam hangat dari blue
Agustus 23, 2010 pada 11:44 am
salam hangat sahabat bloger
Agustus 22, 2010 pada 3:38 pm
ya itulah indonesia…. kini semuanya dilakukan berdasarkan materi.

Makasih mbak sebelumnya udah mau mampir ke blogku.
Salam kenal juga.
Agustus 23, 2010 pada 11:44 am
Ya diharapkan Indonesi cepat berubah. Jgn hanya berkembang terus
salam hangat,
classically
Agustus 22, 2010 pada 8:19 pm
Thanks for the comment. And you have a nice blog. Give it a 4 star ranking.
and did I comment here before? Or did you just find it. Thanks.
Agustus 23, 2010 pada 11:45 am
Nope, you haven’t commented here before.
Thanks for visiting and commenting, dude
Agustus 22, 2010 pada 11:54 pm
apa daya kita hanya rakyat kecil yg tak mampu berontak, hanya pasrah yg bisa kita lakukan, pemimpin sdh kehilangan hati nurani
Agustus 23, 2010 pada 11:46 am
Pemimpin blm kehilangan, ia hanya lupa sepertinya..
salam hangat kang sugeng! keep posting
Agustus 23, 2010 pada 1:25 am
boro2 sila kelima…bahkan pancasila aja kalo pemimpin kita ditanya mungkin gatahu..nah itu gimana coba
Agustus 23, 2010 pada 11:46 am
hahaha.. itu sih parah
salam nusantara,
classically
Agustus 23, 2010 pada 3:38 am
Komentar saya masuk kotak sampah non, keluarkan ya!
Salam sukses & peace…
Agustus 23, 2010 pada 11:47 am
salam sukses!
Agustus 23, 2010 pada 4:04 am
bagaimana mau ingat sila kelima jika para pemegang jabatan di negara ini sudah mengganti sila pertama dari “ketuhanan yang maha esa” menjadi “keuangan yang maha esa?”
salam kenal
Agustus 23, 2010 pada 11:47 am
Betul itu. Materi memang penting, tapi bukan menjadi segalanya
salam kenal juga
Agustus 23, 2010 pada 4:32 am
seiring dengan ditiadakannya “penataran P4″ jadinya lupa deh dengan sila ke-5 pancasila…..eh ngga ngaruh yaa :d
thanks for visiting my blog
Agustus 23, 2010 pada 11:48 am
thanks for visitng my blog too and left a sweet comment
Agustus 23, 2010 pada 7:16 am
Hiks… kapan ya tatanan hidup bangsa kita bisa sesuai dengan sila ke-5 itu…
Agustus 23, 2010 pada 11:48 am
Ketika semuanya sadar & mau berubah
salam hangat,
classically
Agustus 23, 2010 pada 12:30 pm
Mari kita doakan pemimpin kita yang korup agar diberikan hidayah dan kembali kejalan yang benar.
Salam Kenal bu.
Agustus 23, 2010 pada 3:36 pm
Salam kenal. Terima kasih sdh berkunjung & meninggalkan komentar
Panggil saya Mbak saja. Saya baru18 thn -__-
Agustus 23, 2010 pada 1:54 pm
Itulah bu akibat negara ini banyak partai, di negara besar seperti amerika saja hanya dua partai. Akibatnya semua berfikir bagaimana partainya berkembang, banyak massa dan akhirnya menang dan bisa memimpin, dan satu hal yang belum bisa menjadi budaya adalah mengakui kekalahan dan memberikan selamat dan membantu kepada yang menang. Semua merasa yang tebaik, merasa palinng hebat, merasa paling bersih, yang memaluikan lagi pernah jadi pemimpin ndak berhasil pun masih ikut menghujat pemimpin yang terpilih. Sampai kapan ini terjadi, sampai kapan kesadaran bernegara dimiliki, dan sampai kapan betul-betul berjuang demi rakyat meskipun demi kesuksesannya mengatasnamakan rakyat. Rakyat sekarang hanya atas nama. Wah pusing kalau mikiran kayak gini, lebih baik mengajak adik-adik yang masih sekolah sajalah untuk belajar yang baik.
O,ya terima kasih telah berkunjung di Blog saya, salam kenal. and yuk kita saling tukar informasi melalui teknologi.
Agustus 23, 2010 pada 3:38 pm
Betul, Pak. Tapi pelajaran anak2 sekarang semakin berat juga. Kasihan mereka.
Usia 3 tahun pun sudah masuk sekolah level Nursery 1.
Agustus 23, 2010 pada 3:33 pm
sila satu dua tiga empat nya juga belum terpenuhi kok
apalagi yang ke lima
Agustus 23, 2010 pada 3:38 pm
setuju banget
Agustus 23, 2010 pada 4:04 pm
terkadang lucu terkadang menyebalkan apabila kita melihat potret negeri ini yang sesungguhnya, tapi apa mau dikata inilah wajah tanah air tempat kita menjalani kehidupan, semoga saja negeri ini bisa lebih baik dimasa yang akan datang.
Terima kasih telah berkunjung ke rumah blog saya, salam kenal juga
Salam
Agustus 24, 2010 pada 12:11 pm
Semoga… Amin..
salam bloger,
classically
Agustus 23, 2010 pada 4:15 pm
Saya kwatir, suatu saat Pancasila cuma jadi kenangan sejarah karena tidak ada lagi yg mau menerapkannya dlm kehidupan bernegara.
Namun, kita masih punya harapan bahwa pada saatnya kondisi bangsa ini akan membaik bila diurus oleh orang2 yg tepat.
Salam kenal Mba.
(Mba Lupita) ya?
Terimakasih atas kunjungan ke blogku.
Agustus 24, 2010 pada 12:12 pm
Iya, saya Lupita
Ngomong2 soal sejarah, jadi ingat perkataan Bung Soekarno dlu ttg JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah)
salam
Agustus 23, 2010 pada 10:10 pm
Hem…
Nampaknya P4 perlu menjelma lagi.
Agustus 24, 2010 pada 12:13 pm
hmm.. begitukah?
salam hangat,
classically
Agustus 23, 2010 pada 11:31 pm
Bisa kok, klo mau….
Agustus 24, 2010 pada 12:14 pm
Bisa, pasti bisa
salam
Agustus 24, 2010 pada 1:16 am
keadilan. gimana ya? konsepnya sih sebenarnya memberi orang lain bagian mereka yang menjadi hak/ milik mereka secara sama/ bijaksana sesuai hak mereka. jadi seharusnya pemerintah memberikan kepada rakyat hak mereka, yaitu pelayanan publik, kebijakan/ pengaturan yang nyaman dalam kehidupan nasional. habis nggak mungkin pemerintah ngasih uang ke rakyat secara langsung mentah-mentah.
bahkan kalau ditilik asal-muasal uang pemerintah itu dari rakyat lewat pajak (dipaksa lagi). jadi pemerintah berhutang mutlak kepada rakyat. harusnya uang itu untuk roda pemerintahan an biaya pemerintahan/ pelayanan publik semata. tak perlu naik atau tambah naik.
kalau proses pemerintahan berjalan dengan benar, efektif dan efisien, pajak akan rendah karena biaya pemerintahan akan rendah. hasil pelayanan publik nayaman.
sedikit tambahan kalau ada hasil yang berlebih itu bisa untuk membantu fakir miskin.
Agustus 24, 2010 pada 12:15 pm
Setuju banget! Terima kasih banyak telah berkunjung & meninggalkan komentar
salam hangat,
classically
Agustus 24, 2010 pada 4:46 am
Nggak mau bicara apa-apa…
Saya benci melihat ketidak adilan sedang saya tidak bisa berbuat apa-apa…
Hanya sedih saja, bukannya hidup tidak cuma sekali kenapa sih mereka serakah begitu???
Terlalu banyak orang yang merasa adil dan bisa…
Agustus 24, 2010 pada 12:11 pm
Keserakahan itu melecutkan api dendam & keruntuhan ibadah.
Terima kasih telah mampir ke blogku dan meninggalkan komentar
Agustus 24, 2010 pada 4:56 am
petani jabon mampir nich,,,
salam…
Agustus 24, 2010 pada 12:06 pm
salam
Agustus 24, 2010 pada 4:56 am
pansa sila….
udah lupa tuch…
hehe
Agustus 24, 2010 pada 12:07 pm
Wah, jangan sampai lupa dong Pak.
salam nusantara,
classically
Agustus 24, 2010 pada 7:59 am
sepertinya mental para petinggi dan koruptor itu sudah mendarah daging ke generasi mereka selanjutnya
sehingga yang mulanya begitu idealis pun bisa tercemar
Agustus 24, 2010 pada 12:08 pm
Jgn sampai keadaan diperburuk dgn kelupaan sistemik.
Bahwa sebenarnya hukum ada untuk merestorasi, bukan mereformasi
Agustus 24, 2010 pada 10:15 am
mulailah dari yang terkecil… dari diri kita keluarga lingkung dan negara..
emank sich nga gampang..
Agustus 24, 2010 pada 12:08 pm
seujut banget!
Agustus 24, 2010 pada 11:40 am
Begitulah keadaan negeri kita saat ini … semakin banyak yang pinter bukan semakin baik malah semakin ruet karena banyak pendapat yang keluar dari ini dan itu … ujung-ujungnya hanya menciptakan permusuhan antar saudara ,,,
Salam persahabatan blig dari Kalimantan Tengah.
Agustus 24, 2010 pada 12:09 pm
Cukup kompleks permasalahan sekarang.
Tp semoga bs lebih baik ke depannya
salam nusantara,
classically
Agustus 27, 2010 pada 12:15 pm
halooo kawan blogger ^_^
apa kabar??
hohoho… pelangi datang mengunjungi blog kamuu ^^
yuukk, mampir ke blog pelangiii…
jangan lupa baca artikel yang satu ini ya, dan komentari ^_^
http://pelangiituaku.wordpress.com/2010/08/24/welcome-to-the-next-city-2010-%E2%80%9Cjelajah-kota-depok-2010%E2%80%9D/
soalnya pelangi lagi ikutan lomba ^^
mohon doanya yaaa =)
salam
pelangiituaku