nothing in vain

Posted in irisan ringan on April 28, 2013 by classically

Ini saat-saat terberat yang pernah gw jalani dalam hidup gw. Setelah lima tahun lebih gw berkeinginan untuk bisa dapat kesempatan sekolah di luar negeri. Jatuh bangun, air mata, kecewa, marah, dan pesimis selalu ada dalam lima tahun itu. Semuanya dimulai ketika gw ditolak oleh AMINEF untuk bisa kuliah ke Amerika. Pengalaman pertama gw ditolak, dan rasanya bukan sakit lagi, tapi bener-bener hancur. Padahal demi tes terakhir dari AMINEF ini gw sampai meninggalkan semuanya.

Dari situ gw yakin, kalo gw terus-menerus terpuruk, yang kasihan adalah orangtua gw. Gw harus maju, harus bangkit, gw harus cari jalan. Nyaris empat tahun selama gw kuliah yang ada di kepala gw selalu hal yang sama: kapan gw bisa belajar ke luar negeri?

Demi cita-cita itu gw belajar keras, supaya IPK gw mencukupi untuk daftar beasiswa ke luar, untuk bisa dapat beasiswa dari kampus sehingga uang kuliah yang harusnya gw bayar bisa gw tabung. Gw juga kerja. Mulai dari ngajar dengan gaji kecil sampai bertahap dengan gaji lumayan, gw freelance ini itu. Lelah memang. Lahir batin gw lelah. Tapi gw harus maju.

Ternyata memang nggak semudah itu karena di tengah perjalanan gw kembali drop down. Sepertinya impian gw nggak realistis, kenapa justru membebani gw terus? Malam hari gw sering mikir sendiri, kenapa gw nggak menyerah aja dan puter balik? Rasanya benar-benar tertekan ketika lo harus melakukan segalanya dengan sempurna, dengan yang hasil terbaik. Malam hari gw sering nangis sendiri. Gw berhenti belajar selama beberapa hari. Gw benci sama diri gw sendiri.

Tapi seminggu kemudian, batin gw terusik. Gw goyah, bener nggak perjuangan gw bakal sia-sia?

Sehabis itu hari-hari gw mulai normal, gw kembali berusaha untuk dapetin mimpi gw, walaupun semuanya berisi ketidakpastian. Niat awal gw bukan cumlaude. Sama sekali bukan. Gw cuma berharap IP tinggi itu bisa gw pakai untuk apply beasiswa, berharap uang beasiswa dari kampus bisa gw tabung, berharap pekerjaan gw dengan gaji seimprit bisa nambah-nambah ketika gw hidup di luar negeri sehingga nggak perlu ngebebanin orangtua.

3,5 tahun kuliah. Beberapa bulan lagi gw lulus dan gw masih belom dapat kepastian apapun. Gw harus apply beasiswa ke mana, gimana caranya, malah justru mandek di persyaratannya. Sampai akhirnya gw putuskan, gw mau cari kerja aja di Indonesia. Barangkali belom saatnya gw terbang dengan sayap sendiri. Mungkin sayap gw belom kuat.

Sampai suatu malam di tengah obrolan iseng mama dan ii gw (baca:bibi) gw iseng-iseng ke China untuk belajar bahasa di sana karena keluarga gw tahu, dari kecil niat gw memang sama tulisan dan bahasa. Buku, nulis, baca, bahasa, gw suka semuanya.

Dan..Tuhan baik. Sampai gw ngetik cerita ini, gw udah sampai di negeri tirai bambu dengan selamat dan belajar bahasa China. Gw senang karena selama ini gw nggak beratin ortu untuk bayar uang kuliah karena selalu ada beasiswa. Gw tenang karena gw juga punya tabungan yang lumayan untuk bocah seumur gw yang bener-bener hasil kerja gw sendiri. Gw juga puas karena selama ini lewat pekerjaan dgn tujuan cari uang buat belajar ke LN itu gw bisa punya banyak pengalaman.

Lima tahun lebih gw pasang surut. Memang semua yang besar nggak ada yang mudah didapetin. Mulai dari kecewa, sedih, dan tertolak, berusaha bangkit, bisa bangkit, drop lagi, maju lagi, bimbang, nggak pasti, sampai tertekan dan akhirnya gw bisa dengan bangga angkat kepala. Bukan karena hasilnya, tapi lebih karena gw bisa buktikan sama diri gw sendiri: gw mampu jalani ini semua, dan gw cukup kuat.

Untuk kalian yang baca tulisan ini dan sedang tertekan, percayalah, nggak ada usaha yang sia-sia. Tetap berusaha, sekalipun hati lo robek. Tempel dulu pake isolatip, abis itu baru pelan-pelan dijahit. Itu pun bekasnya pasti perlu waktu lagi supaya nggak terlihat. Percaya, orang besar bukan cuma harus lahir dari kotak emas. Mereka yang lahir dari lumpur pun bisa. Tergantung dari apakah dia mau keluar dari lumpur itu atau terlalu malas bergerak.

 

L.W.

Payback

Posted in essay, kolom, politik on Maret 9, 2013 by classically

Federal policy toward the Native Americans has a long history of inconsistency, reversal, and failure. In the late 1700s, the US government owned and operated factories, exchanging manufactured goods for furs and horses with the hope that mutual satisfaction with trade would result in peace between Native Americans and the rush of settlers who were moving west. However, this pursuit of peaceful effort would not survive too long.

By the 1800s, federal negotiators were trying to convince many tribes to sell their land and move out of the line of frontier expansion, a policy that culminated in the forced expulsion of the major Southeastern tribes to the west. Over the protests by Congress and the Supreme Court President Andrew Jackson ordered the Native Americans to be removed. It was all about resources and money. The government had discovered that some of the land allocated as permanent reservations for the Native Americans contained valuable resources. By knowing this situation, finally Congress passed the act and even had no action as tribal system demolition by separating the members.

We could reflect this matter through invasion which was unveiled by US government to Afghanistan and Iraq. I was wondering if they had certain hidden agendas unless such a nuclear power or even ballistic missile of Iraq military services. In fact, as one of the biggest oil producers, both countries had powerful decisions to cope with crude oil contracts which were often dominated by US and Europe countries. Hence, barely UN’s sanctions to North Korea regarding its military drill had vague common whether Pyongyang’s military action was really disruptive.

I’ve read many books regarding US intricate invasion and military expansion through Asia. Furthermore, since Vietnam war, Korea war, and even cleavage of Uni Soviet, US atypically played certain roles between hero and zero. It could be a hero judging by its assistance in financial and military assistance, but it also could be a zero as it touched down nothing in Vietnam war, and even could be said as intruder during Korea war in 1950s.

In other situations, US also provided biggest and most assured support of human rights, protection of children, and honor equality of gender. US accommodated brittle countries which were in trouble with their financial. As John Perkins by his book The Economic Hit Man, the entirely accommodations had asked for payback, direct or indirect. But, think carefully, everything had its payback. It was not a sin, it was not a criminal. It was a trick. Yes, its payback was a kind of tricks. So once again, it was passable and we must accept it.

Lupita Wijaya

“Sorry doesn’t needed, guilty does”

Posted in fiksi, irisan ringan on Februari 20, 2013 by classically

My gaze moved over him in a disconcertingly through sweep.

“Where have you been? You are all covered by chocolate!” I burst him up as he deliberately didn’t invite me for such excitement outside.

Flowers I had in my hand was on the ground, they scattered and when I came up to him, those were leaving behind a trail of sweet scent.

He narrowed his eyes. “The chocolate you mean is mud, Olive.”

She responded with a haughty glance. “I know it is mud, buddy. I just indirectly complain that you go outside alone with those excitements without me,” she said in the event of dire whimper. “but still I can’t seem to stop myself from asking… where have you been?” she continued back to the question.

His mouth clamped into a tight line, but after a couple of second amusement danced in his eyes.

“I am apologise, Olive. But, this may ease your anger,” he handed over a bouquet of calla lily.

Flushing deeply, I clutched my hands around him, “My fault.”

LW

Mari Mengkritik?

Posted in essay on Januari 23, 2013 by classically

Beberapa anak muda yang aktif mengkritik wajarnya tahu bahwa ucapan pedas itu tidak selalu menyelesaikan masalah. Barangkali itu lebih tepat diarahkan pada kepuasaan emosi dibandingkan penyelesaian masalah.

“Criticism and words harassment have slight differences”

Sejujurnya menyenangkan sekali jika masih ada anak muda yang peduli. Siapa yang mengira bila generasi muda sekarang lebih peduli soal hiburan dan kesenangan dibandingkan pengetahuan. Saya terkesan dengan pertanyaan Harian Kompas (23-1-2013) kepada dua orang anak muda. Mereka ternyata tahu persis jumlah anggota boyband Smash tapi tidak tahu siapa pencipta lagu Hymne Guru atau bahkan ibukota Peru.

Apakah kebanyakan mereka terlalu letih dengan urusan keseriusan atau justru karena pikiran mereka kerap dimanjakan dengan hiburan, kemudahan, dan hasil instan. Barangkali mereka juga jenuh soal kurikulum sekolah swasta yang kebanyakan berlomba ‘adu hebat’, siapa yang lebih sulit pelajarannya, siapa yang paling banyak bisa bahasa asing.

Saya melihat tidak sedikit murid yang dipaksa mengeringkan otak. Mereka kehilangan waktu bermain. Dituntut nilai bagus, rangking tinggi, jam kursus gila-gilaan. Hasilnya? Mereka benci belajar. Mereka jenuh. Tidak ada haus dalam diri sebab otak mereka sendiri telah dikeringkan. Imbasnya, mereka butuh pelarian: hiburan. Didukung dengan hiburan mendidik di Jakarta yang minim, maka jadilah mereka memilih mall. Budaya konsumerisme, hedonisme, materialisme barangkali dimulai dari sini.

Seketika mereka yang tidak puas dengan kondisi seperti ini mencoba terus-menerus mengkritik. Kembali lagi, mungkin karena kepuasan juga mungkin karena kepedulian untuk menyelesaikan masalah. Dan, kebanyakan kritik yang tidak solutif malah justru dekstruktif tak ubahnya seperti celotehan anak kecil yang tidak layak dianggap serius. Mereka bisa saja nihil rincian informasi, atau bahkan yang paling parah, sekadar pamer diri.

Padahal, konsekuensinya cukup berat. Ibarat busa yang dikocok semakin luber, masalah yang dipanaskan nggak akan selesai selama jalan keluarnya belum ada. Lalu, bagaimana mau mencari jalan keluar jika mereka yang doyang mengkritik tidak tahu jelas permasalahan. Bahkan, yang tahu jelas permasalah pun masih sulit dicarikan solusinya. Masalah kita sudah terlalu berjalin berkelindan.

LW

Paris of Troya

Posted in kolom on Desember 8, 2012 by classically

If you couldn’t beat you enemies, make friend with them.

Kalimat ini seperti menyatakan sikap pro dengan Kompas, mengingat skripsi yang sedang saya buat berkaitan dengan salah surat kabar paling berkuasa di Indonesia. Skripsi saya memuat cukup banyak kritikan terhadap gaya pemberitaan Kompas. Dengan sikap surat kabar ini yang terlalu berhati-hati sehingga memiliki tendensi ‘kurang bersikap’, akhirnya saya menutup chapter dengan kalimat dari seorang pakar media Ignatius Haryanto: “Saya merasa Kompas masih berbuat terlalu sedikit untuk kapasitas yang ia miliki.”

Namun, di sini saya tidak sepenuhnya berpikir demikian. Saya tidak membahas masalah pro, saya juga tidak kontra. Hanya ingin memberikan satu sudut pandang lain di luar dua kubu itu. Bisa dibilang, mencoba berbicara tanpa ‘bendera’. Meskipun saya mengutipkan kalimat itu, tapi tetap halaman kritik saya soal media itu berkisar lebih dari tiga halaman penuh, dengan tambahan data, wawancara, dan sumber literatur yang bisa dipercaya.

Istilah “jurnalisme kepiting” selalu jadi istilah yang selalu ditempeli Rosihan Anwar. Ini selalu mengingatkan saya soal kepingan kejadian yang tidak bisa saya saksikan lantaran belum lahir. Kejadian ketika surat kabar ini dipaksa “jalan jongkok” demi menandatangani sebuah kesepakatan dari pemerintah. Dua pendiri Kompas berdebat. Ojong menolak menandatangani. Petisi itu menampar idealismenya, tentu saja. Jakob Oetama, sebaliknya, memilih menandatangani petisi. Mundur selangkah, untuk maju lima langkah.

Saya punya ingatan sangat khusus tentang serantai kalimat Jacob yang menenggelamkan saya dalam begitu banyak pemikiran.

Ini serantai kalimat itu: “Mayat hanya bisa dikenang, tapi tidak akan mungkin diajak berjuang. Perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana.

Kita bisa pikir, menandatangani petisi adalah tindakan pengecut. Tapi coba pikir dengan cara pandang lain, dari sisi berbeda, bahwa membuat keputusan itu sendiri sebenarnya juga sebuah pilihan keberanian. Sebab, orang besar tidak datang dengan pilihan mudah, tidak mendapat banyak pilihan juga.

Ibaratnya seperti perang Troy dulu, ketika mereka melawan Yunani, negara yang disegani dengan kekuatan militer dasyat dan dilengkapi dengan prajurit pembunuh seperti Achilles.

Yang menyejukkan dari cerita ini adalah dua pangeran Troya yang berasal dari satu rahim dengan dua watak sangat berbeda. Si pangerang sulung, Hector dengan perkasa dan kuat. Sementara si adik, Pangeran Paris yang dianggap pengecut karena melarikan diri dari duet pedang bersama Menelaus, saudara Agamemnon Raja Yunani.

Perjalanan Pangeran Paris ke Sparta telah membawa kehancuran bagi Troya. Paris terpikat dengan istri Menelaus bernama Helene, membawanya kabur dan tinggal di Troya. Alasan ini cukup bagus untuk Menelaus menyerang Troya demi istrinya dan Aganemnon demi memperbesar kekuasaannya.

Paris memang dikisahkan sebagai pangeran yang tidak mungkin difavoritkan sebagai tokoh. Tapi ternyata dia berperan besar. Pangerang yang sebelumnya memeluk kaki kakaknya lantaran gemetar ketakutan melihat pedang Menelaus yang siap merobek lehernya.

Di akhir kisah, sikap pengecut itu justru mendapat akhir ekstrem sebab Parislah yang akhirnya membunuh Achilles, prajurit yang memiliki kemampuan perang luar biasa. Pria yang berhasil membunuh kakaknya, Pangeran Hector yang dikisahkan gagah berani dan kuat perkasa itu. Lima buah panah dari Paris, dan Achilles tumbang untuk selamanya.

Akhirnya kita tahu, Paris memang tidak seperti Hector kakaknya yang lihai berpedang. Dia pemanah ulung. Yang jika kita ketahui salah satu sifat setiap pemanah hebat adalah hit and run. Cara yang juga berhasil bagi Katniss Everdeen, pemanah canggih yang dikisahkan berhasil memenangi pertandingan The Hunger Games. Pertarungan bagi Paris Troya bukanlah pertarungan jarak dekat dan langsung seperti Hector atau Achilles. Tapi toh akhirnya ia yang berhasil membunuh si pembunuh kakaknya itu.

Demikian kita memang memiliki stigma dan cara. Stigma dari orang lain seringnya tidak sama dengan cara yang sesuai bagi kita. Hanya mereka, yang punya strategi dan mampu mengungguli celotehan orang lain, yang mampu mencetak skor terbaik.

Oleh Lupita Wijaya

广州

Posted in irisan ringan on November 27, 2012 by classically

我去广州暨南大学八月明年,。后来,我决定适用于英格兰奖学金。

 

I’ll be miss (so much)…

my workaholic parents, clamorous college-mates, as well as my noisy students.

None of words could describe my feelings.

Marxis dan Agama

Posted in kolom, opini dan tajuk rencana on November 18, 2012 by classically

Menilik kekerasan dari Aceh sampai Gaza. Kekerasan atas nama agama. Alasan anomali!

Kalau dipikir, benarkah pemikiran Ayu Utami di novelnya berjudul Bilangan Fu, bahwa monoteisme di sini cenderung mirip militerisme sehingga rentan pembantaian bagi saksi-saksi yang dianggap palsu dan umat-umat yang dianggap sesat? Barangkali itulah konstelasi dengan semangat jemaat ‘elitis’, yang memandang diri lebih luhur ketimbang orang lain.

Sebab militerisme selalu konsentris, kaku, dan punya tendensi fanatisme yang sangat besar. Tapi apakah itu konstelasi holistik atau justru konstelasi praktis?

Analogi seperti itu barangkali benar pada satu konteks. Tapi bisa jadi terlalu dipaksakan di konteks lain. Generalisasi tidak bisa begitu saja disebutkan. Seperti apa kata kaum rasionalis bahwa kebenaran itu jamak adanya, tidak ada spesifikasi dari keseluruhan.

Kenyatannya, tidak semua hal bisa disederhanakan. Banyak hal rumit yang memang menjadi spesial lantaran mereka tumbuh dan membawa sifat-sifat unik dalam dirinya, sehingga boleh jadi, hanya segelintir orang bisa mahfum, meskipun banyak orang bisa mencicipnya.

Saya lalu terhenyak.

Lihat China dan Tibet belakangan ini. Apa agama mereka. Bukan monoteis bukan?

Tapi apakah arogansi anarkisme tidak terjadi? Kebijakan garis keras tidak ada?

Perhatikan bagaimana negara dengan budaya Buddhist terbesar itu yang selalu santun dan nampak ketenangan, kini mulai memberontak lantaran tak tahan dengan gencatan China. Bagaimana mulai marak aksi pembakaran diri sebagai protes keras.

Tidak peduli agama apa, asal ditunggangi ‘nafsu’ semuanya pasti jadi seperti lacur. Dan saya harap politisi yang punya kuasa lebih untuk bersifat melindungi. Kita lantas ingat sebuah prinsip yang telah tumbuh, besar, dan tua (tapi belum mati): noblesse oblige. Frasa klasik Perancis itu dicatat oleh seorang penulis Inggris, Fanny Kemble. Noblesse oblige yang memiliki classic wisdom yang mengingatkan borjuis bahwa kekayaan, kekuatan, dan kehormatan datang bersamaan dengan cangkang tanggung jawab.

Ingat pula siapa yang punya pretensi buat mengubah itu semua?

Hukumkah?

Tapi hukum yang menurut golongan Marxisme hanya rupa-rupa base saja. Semacam ideologi sejawat yang ditelurkan politik kartel.

“Indeed you can usually tell when the concepts of democracy and citizenship are weakening. There is an increase in the role of charity and in the worship of volunteerism. These represent the élite citizen’s imitation of noblesse oblige; that is, of pretending to be aristocrats or oligarchs, as opposed to being citizens.” —John Raltson Saul

 

Lalu apa kata Neo-Marxisme? Bahwa sebaiknya kita menimang superstructure karena semua bentuk berasal dari sana?

Nyatanya ini bukan soal apakah base atau superstructure yang disalahkan. Nyatanya histori para elitis sendiri tidak seluruh daftarnya berwarna hitam. Nyatanya di Indonesia, ada saja intelek yang punya banyak jaringan dan pengetahuan luar biasa, yang justru mengabdi dan memilih tinggal di dunia ketiga, tempat desa yang kata para kulit putih sebagai ‘ekspedisi ketenangan alam’, tapi kita pandang sebagai makanan bosan dengan tanah dusun dibaluri kerikil dan kemiskinan. Mereka akhirnya memilih. Kita. Dibanding industrialisasi itu yang menawarkan segala kenikmatan.

Saya lalu ingat pada seorang Ki Hajar Dewantara dan sosok Goenawan Mohamad.

Dan kembali, kepada si pembentuk base Marxist tadi, yaitu apa yang dibilang sebagai superstruture. Para politisi, entrepreneur, dan kaum intelek. Barangkali bukan nihil, tapi masih sulit kita lihat, siapa yang bisa memberikan nafas perubahan dan berseru atas nama keadilan Tuhan. Lagi-lagi. Apakah Tuhan yang dimaksud dan apakah agama yang dianut akan semakin blur dan mudah disusupi satu kepentingan saja?

Kita dipertemukan oleh dua hal yang sangat bertolak. Seperti hitam dan putih. Seperti yin dan yang. Bila pada akhirnya juga sebuah permasalahan transeden seperti ini ujungnya juga diletakkan dengan penyelesaian rasional Marxis.

Saya harap kalian para superstructure yang dikatakan Marx, bisa sungguh mumpuni kami. Bukan sekadar balon warna-wani.

Oleh Lupita Wijaya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.