Bunga

Posted in cerpen on November 5, 2009 by classically

Bunga

Ia mengeluh, pada sebelah kakinya yang timpang. Bernafas memburu, meninggalkan jejak dalam pada tanah lembab. Belum juga pakaiannya kering akibat hujan kemarin. Tetapi ibukota memaksanya kembali beraktivitas. Sengaja ia memutar lebih jauh. Melewati stasiun yang masih dibungkam oleh subuh. Udara dingin meniup mengejek, pakaiannya yang lembab hanya mampu menahan sedikit sisa kehangatannya. Dilihatnya seorang kakek tua duduk ditemani koran dan kopinya yang masih mengepul. Andai aku dapat menikmati kopi hangat itu, batinnya. Tiba-tiba merasa sesuatu yang hangat di pipinya. Air mata.
”Kenapa kau gadis kecil?”
Ia menoleh ke sebelah dan ke arah belakang. Tidak ada siapa-siapa. Kakek itu memang menegurnya. Gadis itu menggeleng lemah. Tubuh kurusnya bergetar cukup hebat akibat udara sisa hujan kemarin malam.
”Kemari.” Kakek itu meletakkan korannya. Sementara gadis kecil itu maju dengan ragu.
”Pakaianmu belum kering benar, mengapa kau keluar dengan pakaian seperti itu di subuh hari begini?” Kakek itu tersenyum sambil menepuk sisa tempat duduk kosong di sampingnya.
”Kemarin malam hujan tiba-tiba, belum sempat saya berlindung. Hari ini saya harus kembali bekerja. Ini satu-satunya yang saya miliki.” tunjuknya pada pakaiannya.
Semoga kakek ini memberiku sedekah, sehingga aku tak perlu terlalu lama mengemis di lampu merah. Biasanya orang-orang membantunya melalui rasa kasihan mereka. Gadis kecil itu selalu menadah untuk mencukupi perutnya yang kurus.
Ha ha ha ha! Kakek itu tertawa mengejutkannya. Mengapa ia tertawa? Bukankah seharusnya ia prihatin? Batinnya kesal bercampur sedih.
”Kakek tidak tahu apa-apa. Tidak ada masalah, tidak harus mengemis untuk mengisi perut. Bisa membeli koran dan kopi hangat.” kata gadis kecil itu dengan sedih. Air matanya kembali menetes. Kata-katanya tadi memang ditujukan untuk menyinggung kakek itu, tapi hatinya sakit mendapati bahwa itu adalah kenyataan.
”Maaf, Nak. Tidak seharusnya Kakek begitu. Ini, untukmu. Tidak usaha bekerja hari ini. Istirahatlah, Nak. Kau bisa sakit.” ujarnya mengeluarkan uang kertas berwarna merah dari saku kemeja putihnya.
Gadis kecil itu terlonjak kaget, itu bukan jumlah yang kecil. Uang makannya selama sebulan! Tapi ia hanya memandangi uang kertas yang masih rapih itu. Tidak, ini bukan jumlah yang seharusnya ia terima. Terlalu besar. Tapi, Kakek itu juga terlihat hidup berkecukupan, tentunya takkan jadi masalah kehilangan uang yang telah diberikannya. Tapi untuk dikembalikan, gadis kecil itu merasa sayang, ia sama sekali belum pernah menyentuh uang dalam jumlah itu.
”Kek, aku mau kembalikan saja uang……”
Kakek itu hilang. Kini ia hanya melihat seorang petugas pembersih yang sedang menyapu stasiun. Ia lalu mendekatinya.
”Permisi.” sapa gadis kecil itu. Petugas pembersih memandanginya dengan pandangan menilai, lalu beralih merendahkan.
”Apa?” tanyanya tak ramah merasa perkerjaannya diganggu.
”Apa Bapak melihat seorang Kakek berkemeja putih yang baru lewat?”
”Tidak.” jawabnya singkat tanpa menoleh.
Aneh.. Mimpikah dirinya? Tapi uang kertas itu masih tergenggam rapih di tangannya.

♣ ♣ ♣

”Hei, bangun! Ayo bangun!” teriak seseorang yang samar-samar didengarnya.
Gadis kecil itu terbangun. Perutnya lapar sekali, karena belum makan dari dua hari lalu. Ia sudah memeriksa tempat sampah kemarin. Tidak ada sisa makanan, hanya ada botol aqua yang sisa sedikit airnya. Ia hanya minum, tapi sisa air itu bahkan tak cukup menghilangakn rasa hausnya. Kemarin gadis kecil itu tak pergi mengemis, ia menuruti Kakek itu untuk beristirahat saja.
Ia sudah tak bisa tidur lagi, seorang petugas jalanan sudah mulai mengusir para pengemis yang numpang tidur gratis di sepanjang jalan raya itu. Kalau petugas itu sudah datang berarti… Gawat, aku kesiangan! Padahal hari ini seharusnya aku mengembalikan uangnya.
Gadis kecil itu bergegas dengan langkah tertatih. Berusaha menjaga keseimbangan pada kaki kirinya yang timpang. Kecelakaan itu terjadi kira-kira setahun yang lalu. Ketika ia terlambat ke tepi saat lampu hijau. Sebuah mobil box menghajar dirinya dari arah samping. Untung saja pengemudinya bertanggung jawab, kalau tidak mungkin ia sudah tak ada saat ini. Apa mungkin lebih baik begitu? Ia menggeleng cepat-cepat. Berusaha memfokuskan dirinya agar secepat mungkin tiba di stasiun.
Kakek itu masih ada, meski kopi nya sudah habis tapi matanya masih sibuk melahap deretan huruf di koran itu.
”Kesiangan?” tanyanya ramah, sepasang matanya beralih menatap gadis kecil itu.
”Ini.” ujarnya menyerahkan uang itu, ”Maaf sudah sedikit lecek, aku menyimpannya di kantong celanaku.”
Kakek itu terkejut sekali. Ia tahu gadis kecil itu kekurangan. Pipinya tirus, tentu ia kekurangan makan.
”Kenapa tak kau gunakan? Apakah Kakek menyinggung perasaanmu?”
Gadis kecil itu bingung, ”Bukan, Kek. Saya hanya merasa jumlahnya terlalu besar. Saya tidak bekerja apapun untuk kakek. Saya juga tidak menolong kakek. Tapi terima kasih, Kek. Baru kali ini saya mempunyai uang sebesar itu, meski hanya semalam.” ujar gadis itu tulus.
Kakek itu tersenyum. Gadis kecil itu begitu murni, tapi sayang ia terlalu banyak berkeluh kesah.
”Siapa namamu?”
”Bunga, Kek.”
”Orangtuamu?”
”Saya tidak tahu siapa ayah saya, tapi ibu saya meninggal setahun lalu. Karena belum cukup usia saya mau dititipkan ke panti asuhan. Tapi daripada di tempat menyeramkan seperti itu. Lebih baik di sini saja.”
Kakek itu mengangguk. Tangan kanannya membelai kepala gadis kecil itu.
”Bunga, uang itu untukmu. Kalau kau tidak mau menggunakannya, anggap saja kakek titip padamu. Boleh?”
Bunga terdiam ragu, tapi kemudian a mengangguk.
”Tapi jika ada keperluan yang mendesak, pakailah. Sebagai gantinya boleh kakek minta sesuatu?”
Bunga mendesah pelan. Pantas saja, mana ada yang gratis di dunia ini.
”Kakek minta apa? Kakek tahu saya tidak punya apapun kecuali pakaian ini. Apa Kakek juga menginginkan pakaian saya?” tanya Bunga lemah.
Kakek itu menggeleng, ”Kau masih punya hati, Bunga. Masih ada pendirian yang kuat melebihi anak seusiamu. Itu adalah hartamu. Kau menurut untuk beristirahat kemarin, meski uang itu sama sekali tak kau gunakan. Pasti kau belum makan, ini kakek berikan. Kakek sudah kenyang.” ujarnya menyerahkan roti.
Bunga terkejut, ”Terima kasih.”
”Tapi harta milikki tak dapat membuatku kenyang, tak dapat melindungi tubuhku dari terpaan angin.” tunjuknya pada kaki kirinya.
”Tapi kau sehat.”
Bunga menoleh pada Kakek itu karena jawaban singkatnya. Tapi ia dikejutkan oleh sepasang mata miliknya.
”Tujuh tahun lalu kakek masih memiliki seorang anak. Ia cantik, seperti ibunya.”
”Maksudnya sekarang kakek kehilangan putri kakek?”
Kakek itu mengangguk, ”Kakek yang salah. Kakek mengusirnya dari rumah. Menempatkan dirinya sendirian tanpa tempat tidur, uang dan makanan.”
”Kakek mengusirnya?” tanay Bunga tak percaya. Ia menelan rotinya dengan paksa.
”Hidup ini tak rumit. Lihat saja peta, begitu banyak wilayah kecil, bisa ribuan, bisa puluhan ribu. Dan dalam setiap wilayah itu terisi begitu banyak manusia. Dalam setiap manusia terisi begitu banyak perasaan. Ada emosi, ada marah, ada sedih, ada senang. Tapi yang paling sedikit adalah rasa maaf.
Itu yang membuat kakek melupakan kasih. Menggelapkan mata karena kesalahan yang putriku perbuat. Dan menenggelamkan kakek pada kolam penyesalan.”
Setelah itu mereka berdua terdiam dalam sepi. Tak lama stasiun mulai ramai. Mereka pergi dengan pikiran masing-masing. Sedikit banyak Bunga mengerti perasaan kakek itu. Meski ia masih anak kecil, tapi kehidupan yang ia jalani mengasah tajam perasaannya.

♣ ♣ ♣

Esoknya ia bangun subuh. Ia berusaha berlari kencang dengan kaki kirinya, mencoba untuk menyeimbangkan langkahnya. Meski ia tahu waktu masih awal, ia ingin bertanya sesuatu pada kakek itu. Hasil mengemis kemarin tak banyak. Tapi setidaknya sudah dapat dibelinya sesendok nasi dengan garam. Uang pemberian dari Kakek itu masih terlipat apik di kantong celananya yang lusuh.
”Kakek!” panggilnya dari kejauhan. Kakek itu menoleh, menggerakkan tangannya untuk menyuruh gadis kecil itu mendekat. Bunga menghampirinya.
”Kau bersemangat sekali.”
Ia buru-buru mengangguk, ”Ada yang ingin kutanyakan, Kek.”
Kakek itu menatapnya dengan pandangan bingung, tapi ia segera tersenyum. ”Silahkan.”
Baru saja Bunga ingin membuka mulutnya, Kakek itu bergetar hebat. Seluruh tubuhnya kejang, dan tangan kanannya memegangi dadanya.
”Tuan Besar!” teriak seseorang berjas hitam dari jauh. Orang itu berlari secepat kilat, dan memapah Kakek pergi.
Sementara Bunga menangis melihat keadaan Kakek. Kakek tampak sangat kesakitan. Tolonglah Tuhan, Kakek orang yang baik. Selamatkan nyawanya!

♣ ♣ ♣

Keesokan harinya, Bungan berlari cepat menuju stasiun. Pikirannya melayang bertanya bagaimana keadaan Kakek saat itu, hingga ia berkali-kali terjatuh dan celananya yang lusuh dan tipis robek karena gesekan aspal. Tapi ia kembali bangun dan berlari, berdoa semoga semua baik-baik saja.
Bunga kecewa mendapati dirinya hanya sendiri di stasiun itu. Apa karena ia datang terlalu awal? Mungkin saja Kakek belum datang. Ia mencoba sebisa mungkin menenangkan dirinya. Dalam empat hari ia sudah memiliki ikatan yang dalam pada Kakek itu. Kakek itu sendirian, sama sepertinya.
”Permisi, Dik” sapa seseorang berjas hitam rapih. Dari penampilannya Bunga tahu orang itu lebih dari sekedar berkecukupan.
”Bapak, memanggil saya?”
Ia mengagguk, dan duduk di samping Bunga.
”Pak Baston sedang dirawat, ia tak dapat datang. Sebenarnya beliau adalah sahabat sekaligus klien saya. Sudah lama saya tak pernah melihatnya tersenyum.”
”Klien? Bapak siapa?” tanya Bunga bingung. Tapi ia tetap tenang, karena pria di sampingnya tetap berperilaku sopan.
”Saya pengacaranya. Pak Baston mempunyai penyakit jantung sejak kejadian itu. Anda adalah pewaris tunggal beliau.”
”Apa?!” Bunga membelalak terkejut. Apa karena ia dekat dengan Kakek sehingga Kakek memintanya menjadi pewaris? Tapi Bunga sama sekali tak menyangka, alasannya terlalu sederhana.
”Saya hanya mengobrol saja dengannya. Saya tidak menolong Kakek apapun. Kalaupun ini imbalan mengobrol. Pantaskah imbalannya, Om?”
Orang itu tidak menjawab, hanya menggeleng.
”Kau cucunya. Edelweiss Helene Prima. Prima adalah nama keluargamu, Helene adalah nama ibumu, betul?”
”Be..betul. Tapi nama saya Bunga” Bunga menjawab tergagap.
”Edelweiss itu nama aslimu, diambil dari nama bunga di wilayah Eropa. Pihak kami telah menyelidikinya, tak mungkin salah. Data-data yang kami peroleh lengkap, berikut data kesehatanmu dari Rumah Sakit Kasih. Kau pernah dirawat di sana, betul?”
Bunga mengangguk, ia ingat dirawat di sana setelah kecelakaan tabrakan itu. Pantas saja ia merasa dekat sekali dengan Kakek itu. Ikatan darah memang tak dapat dipungkiri. Ternyata beliau adalah Kakek kandungnya sendiri.
”Tak mungkin salah. Helene mengganti nama putrinya demi menyembunyikanmu.”
”Menyembunyikanku? Dari apa? Selama hidup, aku dan Mama selalu hidup tenang. Meski kekurangan, tapi Mama tak pernah berhutang.”
”Pak Baston memiliki dua putri. Ibumu adalah putri sulung, dan Bu Hilda adalah putri bungsu. Bu Hilda menolak meneruskan Prima, beliau melanjutkan pendidikannya sebagai ilmuwan, dan hingga saat ini belum berumah tangga. Kau satu-satunya ahli waris Prima Company. Ibumu telah dicoret dari nama keluarga Prima sejak ia hamil di luar nikah. Tapi bagaimanapun, dalam darahmu masih mengalir darah Pak Baston.”
Bunga membisu.
”Bisa aku bertemu dengan Kakek? Aku masih berhutang sesuatu padanya.”
Mereka tiba di Rumah Sakit setengah jam kemudian. Ruangan Kakek Baston sangat luas, tapi tak seorangpun mengunggunya dengan kasih sayang di sana. Ruangan besar itu begitu dingin, tubuh Kakek terbaring lemah di ranjang besar Rumah Sakit.
”Kakek..” sapa Bunga, pipinya basah penuh air mata ketika melihat keadaan kakeknya.
Kakek Baston tak mengatakan apapun, tapi ia tetap tersenyum melihat kedatangan Bunga.
”Kek, Bunga mau bertanya. Apa yang Kakek minta dari Bunga? Kakek masih ingat kan Kakek minta sesuatu pada Bunga. Oh iya, ini uang Kakek, masih ada, belum Bunga pakai. Tapi maaf Kek, sedikit robek. Tadi pagi Bunga terjatuh saat berlari menuju stasiun.”
Kakek Baston adalah seseorang yang kuat, ia memimpin banyak perusahaan besar. Gengsinya sangat tinggi. Tapi kali ini ia menangis, air matanya mengalir perlahan. Dirinya kini tidak lagi gagah seperti dulu.
”Maafkan Kakek telah mengusir Mamamu.”
Bunga menggeleng, ia menggenggam tangan Kakeknya sekuat mungkin. Takut kalau Kakeknya meninggalkannya sendirian. Padahal baru saja ia tahu ia masih memiliki keluarga. Bunga sudah mendengar apa yang terjadi di masa lampau dari pengacara Kakek.
”Kakek minta Bunga.. Tolong… Kembali pada keluarga Prima.Tidak apa kalau Bunga tak mau melanjutkan perusahaan. Tapi Bunga tidak boleh mengemis lagi. Bunga lihat kan yang Kakek katakan benar? Bunga masih memiliki kesehatan. Itu harta yang tak ternilai. Lihat saja, Kakek mempunyai uang untuk membeli villa mahal. Tapi apa Kakek bisa tinggal di sana sementara kesehatan Kakek buruk?”
”Kakek masih pucat, istirahat dulu, Kek.”
Kakek Baston menggeleng, ia tahu kalau tidak sekarang maka ia takkan punya kesempatan lagi. Ia sadar waktunya sudah tak lama.
”Mengenai kakimu, Kakek dengar dapat dilakukan operasi untuk memulihkannya. Pengacara Kakek yang akan mengurus semuanya.”
Uhuukk! Kakek terbatuk keras. Jantungnya kembali bereaksi, dengan segera Bunga memanggil perawat. Sepanjang penantiannya, ia berdoa. Kakek selamat atau tidak itu tergantung yang di atas. Allah memiliki rencana yang sempurna, Ia tahu yang terbaik. Bunga hanya minta agar Kakek diberikan tempat di sisi-Nya kalau memang sudah waktunya. Dengan hidup pun Kakek harus menelan berbagai obat setiap harinya, terbaring di ranjang dengan berbagai tusukan selang di sepanjang tubuhnya. Tapi Bunga tetap berharap mujizat terjadi.
Baru saja ia selesai berdoa, Bunga melihat Kakeknya melewati jalan sepanjang Rumah Sakit itu. Ia tak mengenakan pakaian biru milik Rumah Sakit. Kakek mengenakan baju putih, ia tersenyum, melambaikan tangannya pada Bunga. Gadis kecil itu tersenyum membalas, air matanya tumpah.
Dokter keluar dari ruangan itu. Pengacara keluarga Prima segera menghampirinya, ”Bagaimana, Dok?”
Dokter itu menggeleng menampilkan raut sedih dan menguatkan.
Pengacara itu segera menghampiri Bunga, ”Tabah, Nak.”
”Tidak, Om. Bagaimana saya sedih kalau Kakek sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang?”
Laki-laki itu tersenyum mendengar jawaban tulus Bunga. Ia memang pantas menyandang nama keluarga Prima.
”Satu lagi, Om.”
Perkataan tiba-tiba gadis itu membuatnya sedikit tersentak.
”Saya akan meneruskan bisnis yang telah Kakek bangun. Saya akan sekolah bisnis.”
Operasi yang dijalani Bunga berjalan sempurna. Bunga memimpin Prima Company beserta ribuan perkerja di bawahnya dengan sukses. Perusahaan itu maju pesat, dan ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang dermawan. Setiap tahun lima persen dari pendapatannya sendiri disumbangkan pada mereka yang tak seberuntung dirinya.

Aspirasi Gembok

Posted in essay on Oktober 24, 2009 by classically

Aspirasi Gembok

Kembali diingatkan kepada fungsi partai politik pada awalnya, untuk mewakili aspirasi pada pemerintah. Meski berpanjang lebar ketika definisi dituliskan, tetapi intinya ya itu (pada awalnya). Kemungkinan dibuatnya sebuah partai politik itu karena adanya kesadararan, bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan, maka parpol telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.

Aspirasi bisa dikategorikan sebagai pro atau kontra, kubu koalisi atau oposisi. Oposan pemerintah saat ini yang dinilai paling efektif adalah pers. Inti permasalahnya terletak pada Undang-Undang Rahasia Negara yang dapat dikatakan ‘mencekik pers’ dalam bertindak. Selama ini pers berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat yang disalurkan kepada pemerintah atau sebaliknya. Tetapi jika pers itu sendiri dibatasi, bagaimana dapat pers mengucapkan kejujuran? Padahal kita tahu, kebanyakan kejujuran adalah pahit. Hal-hal yang seharusnya tidak dihumbarkan, tetapi malah menjadi makanan publik. Tapi itu fakta! Pers bukan mengobrol, pers berkerja secara informatif, ada landasan fakta. Mengenai masalah objektivitas memang sukar diputuskan, tetapi darimana masyarakat dapat bergerak dalam aspirasi mereka jika mulut mereka dibungkam peraturan yang kembali membungkam demokrasi.

Partisipan aspirasi saat ini berfungsi sebagai gembok. Mengunci rapat rumah, sehingga apa yang dilakukannya di dalam menjadi terselubung atau tidak, tak dapat diketahui orang luar. Seperti panggung sandiwara yang melakonkan pertunjukannya dengan tirai tertutup, sehingga hanya auditori  audiens yang mendengar, dan menebak apa yang tengah berlangsung, tanpa visual sebagai bukti.

 

 

Oleh : Lupita

Euforia si Partai Biru

Posted in essay on Oktober 10, 2009 by classically

Euforia si Partai Biru

 

Si Partai Biru, disebut untuk menghindari penggunaan subjek secara langsung, diharapkan pembaca mengerti terlebih dulu mengenai subjek tersebut sebelum membaca lebih jauh mengenai tulisan ini.

Si Partai Biru, atau si Partai Penguasa tengah berada di atas angin. Kedudukannya yang ternyata menang mutlak di lembaga legislatif maupun eksekutif di termit kedua ternyata membawa keuntungan besar-besaran. Terlebih kemenangan Ichal sebagai Ketua Umum Partai ‘Kuning’ telah membalut luka dari pernyataan yang dilontarkan Mantan Ketua Umum sebelumnya, Jusuf Kalla. Kemenangan Ichal dengan perolehan suara sebesar 294 tersebut membawa pengaruh yang cukup signifikan dari barrier kedua kubu Si Biru dan Si Kuning. Pasalnya, Ichal sebagai tokoh pendukung partai yang dimenangkan pemilu tersebut banyak ikut andil dalam kegiatan pemerintahan. Secara otomatis, kemenangan Ichal membawa makna positif tersendiri terhadap Si Partai Biru.

Maka semakin kuat Partai Biru berkibar di singgasananya, selain bertapak tepat di kedua kakinya, kini ia mendapat angin segar dengan kemenangan Ichal. Tetapi sebagian masyarakat menilai, kekuatan Partai Biru yang begitu superior akan sulit dikontrol untuk masa ke depan. Bukankah dengan kemenangan mutlak di legislatif dan eksekutif sekaligus telah menimbulkan sedikit ketakutan? Kini hal itu ditambah pula dengan kemenangan Ichal yang notabene pro pemerintah. Beberapa tokoh menilai keprioritasan itu justru akan mengendorkan pengontrolan terhadap pemerintah, yang akhirnya dapat terefleksi melalui kejayaan Partai Repulik pada kepemimpinan George W. Bush.

Euforia Si Partai Biru telah berlangsung, ditandai dengan menguatnya mata uang Rupiah. Kekuatan ekonomi di Indonesia tetap stabil, dan investor mulai mengalirkan uang panasnya. Saham di Indonesia, maupun inflasi menunjuk angka positif. Ditambah dengan pembayaran utang negara dan APBN yang terdistibusi lebih ketat, maka semakin jayalah dia.

Tidak menutup kemungkinan pula pihak-pihak independen, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pers yang bertugas sebagai watchdog pemerintah semakin kehilangan suaranya untuk mengajukan koreksi terhadap pemerintah. Ditambah dengan pernyataan sebelumnya bahwa Si Partai Biru juga menguasai lembaga legislatif, semakin menjadi menyeramkam jika dipikirkan ke depan mengenai kontrol pemerintah. Lantas siapa yang menjadi pengendali sebenarnya?

Maka dari itu saya mengkritisi mengenai perpu kebebasan pers. Akan lebih baik jika kebebasan pers tersebut tidak diamandemen atau disahihkan. Menurut saya, pengontrol pemerintah yang paling ampuh untuk saat ini adalah pers. Pers akan menjadi pintu menuju ke luar dunia yang baru, yang sebelumnya hanya dapat kita pandang melalui jendela. Tetapi melalui pers sebagai pintu, kita dapat melewati dan menjumpai secara langsung apa yang hadir, dan apa yang hanya berfungsi sebagai ‘cap’ di atas kertas.

Kebebasan pers tetap penting, tetapi perlu batasan dan artian yang jelas. Jika sudah diamandemen dan diberi hak mengenai kebebasan, ketakutan terbesar adalah pers menangkapnya sebagai wajah baru peraturan pers. Pers yang demikian, takutnya malah akan dipergunakan oleh pihak-pihak terntentu guna menyalurkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Dalam artian sempit, mereka yang memunyai media massa lah yang dapat menggerakan kepentingannya, dan etika dan pers yang elegan akan menjadi disfungsional.

Kembali pada kejayaan Si Partai Biru, jangan terlalu terlena pada kemenangan karena masih banyak oposisi yang perlu mendapat perhatian lebih. Takutnya, hal tersebut malah menjadi antagonis membahayakan yang memecah kesatuan.

 

 

Oleh     :           Lupita Wijaya

Kisah Yu Yuan

Posted in non - fiksi on September 29, 2009 by classically

Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah “Saya pernah datang dan saya sangat penurut”. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 Imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan.” Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang
anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu
memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima
tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju,
memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia
sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang
orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya
mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang
anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke sebuah Puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar… “Papa saya ingin mati”.

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menanda tangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.
Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto ini”.
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli
baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah.
Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian
menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terkumpul 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati.. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan, anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan, anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu
kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.
Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum
suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu.
Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil
dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”.
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan
melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Ia pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana.
Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua
orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati.” Yu Yuan kemudian berkata : “Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati.” Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik…
Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu
Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada
ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,??. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

“Saya pernah datang, saya sangat patuh,” demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya.. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air sungguh telah pergi ke dunia lain..

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah?????” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis.
Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.
Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 Nov 1996- 22 Agustus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambangpun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Moderenitas Sejati Menyangkut Hedonisme dan Gaya Hidup Instan

Posted in essay on September 14, 2009 by classically

Moderenitas Sejati Menyangkut Hedonisme dan Gaya Hidup Instan

 

Peradaban manusia terus berkembang. Mereka melihat hidup dari kacamata ekonomis, dan hasrat yang harus segera dipenuhi. Permukaan dalam suatu dinamika terkadang menampilkan hal positif, di mana perilaku-perilaku manusia menatap pada sebuah kancah alasan efisiensi. Namun mengapa hal yang bermula dari efisiensi dapat menimbulkan sebuah kausalitas?

Pendapat-pendapat mulai bermunculan. Persis seperti yang dikemukakan Aristoteles bahwa manusia mempunyai hasrat untuk tahu. Banyak orang berspekulasi bahwa moderenitas buah dari pengetahuan berlebih. Saya menjawab, tentu saja. Tetapi tergantung bagaimana si pemikir menempatkan pola kausalitas dalam eksistensinya sendiri di dunia. Bahwa seseorang akan berkembang pikirannya seiring dengan dinamika zaman.

Moderenitas menyangkut hedonisme dan gaya hidup instan. Dalam segi tingkat kebutuhan, kini primer, sekunder, dan tersier memiliki seorang teman baru. Kebutuhan hasrat. Semata hanya berfungsi untuk kepuasan sesaat. Hedonisme sendiri bermakna bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia harus dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi manusia. Pantas saja perilaku konsumen semakin menggila. Perilaku yang mengatasnamakan merk, kekuasaan, dan kenikmatan semata.

Dampak negatifnya muncul ideologi bahwa formalitas kini menjadi segalanya, hal terpenting bagi dirinya adalah images yang di mana mereka dapat menyalurkan hasrat. Contoh tindakan hedonisme sekarang muncul dalam beragam tindakan aktivitas, mulai dari penomorsatuan sebuah merk, hingga free sex.

Gaya hidup instan sendiri merupakan dampak langsung dari eksistensi teknologi yang semakin mutakhir. Keberadaan telepon, internet ternyata sangat memengaruhi pola pikir kita. Sekarang seseorang hanya perlu mengangkat telepon untuk menghubungkan dirinya dengan orangtuanya yang berada jauh di sana. Karena kesibukan yang menghipnotis, telepon atau internet pasti menjadi alternatif terpraktis dalam berkomunikasi. Tak lepas dari itu, lama-kelamaan kunjungan langsung menjadi berkurang. Pembicaraan via telepon mengurangi frekuensi dan sering terjadi salah presepsi. Padahal pertemuan tatap muka penting, karena dalam berkomunikasi via email atau telepon, komunikasi verbal (berkata-kata) kita pasti menjadi terbatas, dan komunikasi non-verbal seperti bahasa tubuh, tatapan tidak tertampilkan. Hal seperti itulah yang kini menyebabkan individualistis. Gaya hidup instan yang kemudian mengubah cara pandang kita yang terutama berkutat dengan kesibukan tingkat tinggi.

Kecukupan materi tak menjamin seseorang merasa lengkap dalam hidupnya. Anda pribadi yang menilai bagaimana seseorang akan maju dalam pikiran. Bukan terus-menerus menomorsatukan teknologi. Terkadang cara pandang konvensional dapat membuka kembali pilihan-pilihan yang semula sempit.

 

 

Oleh    :    Lupita

Perkasa Dalam Ilmu

Posted in puisi on September 5, 2009 by classically

Perkasa Dalam Ilmu

 

Kuat dalammu dalamku sekar
Bergelayut kata dalam bahak orator
Penjunjung setia lalu terbakar
Menelan cakap tanpa tahu bermaksud kotor

Ribut-ribut kudengar,
Pandangan garang menyerbu bala kekosongan
Mereka yang tak tahu apa, melangkah dengan parang
Kau pikir perkasa dirimu itu?

Kau pegang parang tanpa ilmu
Hingga nafsu menghipnotis, jadilah kau budaknya
Merangkak pula mereka dalam ujung lingkaran yang tak bertemu
Masih pikir dirimu perkasa?

Timpaan nurani beralas sepi
Hingga sampai tak kuat berdiri
Tetapi sadari dalam hati, jangan sampai tiba seruling surga
Perkasalah kau dalam ilmu

 

 

Oleh : Lupita

Jangan Benci Aku, Mama…

Posted in non - fiksi on Agustus 19, 2009 by classically
 
 
 
JANGAN BENCI AKU MAMA…………………
 
 Kisah Nyata
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
 
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.
 
Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyeko lahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali.Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!”Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”"Nama saya Elic, Tante.”"Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.
 
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati…Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric… Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.
 
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya.. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric… Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali…Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut.
 
Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.”Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
 
Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”Saya pun membaca tulisan di kertas itu… “Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”Saya menjerit histeris membaca surat itu.    “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. “Nyonya, semua sudah terlambat.
 
Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Nyonya, dosa anda tidak terampuni!”Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.(kisah nyata dari Irlandia Utara

Iringan Kematian

Posted in puisi on Agustus 14, 2009 by classically

Iringan Kematian

 

Hingga sejauh ini aku berlandas, memikul ratapan banyak peminta
Ribuan rebah menggerogoti jantung hatiku, marak akan unggun kekhilafan
Jalan ini…
Di mana kau tebar rasa kepalsuan, serta sorak sorai kehakiman

Kedua insan itu terpejam, bernikmat senja pada sungai waktu
Menuai keriput pada usia, menenggerkan letih dalam fana
Kudapan hari ini..
Matahari lepas pantai, dan aku terbaring di bibirnya

Hingga selama ini aku berjalan, mencongkel kendi-kendi orang berada
Bercocok ilmu dengan sedekah
Kini kupunya waktu terkikis habis telah
Sementara mata terpejam, tubuh terbujur, namun semangat tetap terbang bebas!

 

 

Oleh : Lupita

Just For Laugh

Posted in humor on Agustus 11, 2009 by classically

cerita ini semata-mata hanya hiburan, bukan bermaksud menyindir atau rasialis..
ingat, hal positif yg ditangkap.. hal positif pula yg kita terima.. =)

Chinese Jews

Oscar Weil and Benjamin Oppenheimer are Jews, and were sitting in a
Chinese restaurant in Shanghai.
“Oscar,” asked Benjie, “Are there any Jews in China ?”
“I don’t know,” Oscar replied.
“Why don’t we ask the waiter?”
When the waiter came by, Benjie asked him, “Are there any Chinese Jews
here in Shanghai ?”
“I don’t know sir, let me ask,” the waiter replied, and he went into
the kitchen.

He returned in a few minutes and said, “No, sir. No Chinese Jews.”
“Are you sure?” Benjie asked.
“I will check again, sir” the waiter replied and went back to the kitchen.

While he was still gone, Oscar said, “I cannot believe there are no
Jews in China, our people are scattered everywhere.”
When the waiter returned he said, “Sir, no Chinese Jews.”
“Are you really sure?” Benjie asked again. “I cannot believe there are
no Chinese Jews.”
“Sir, I asked everyone,” the waiter replied exasperated.
“We have orange Jews, apple Jews, tomato Jews and grape Jews, but no
one ever hear of Chinese Jews! If you want, we have Chinese Tea..

How Do You Control Your Anger ?

Posted in humor on Agustus 11, 2009 by classically

This story is just a silly one.. Do not mention any negative side from it..
Enjoy..! =)

Husband: “when I get mad at you, you never fight back. How do you control your anger?”
Wife: “I clean the toilet”.
Husband: “How does that help?”
Wife:”I use your toothbrush..”

Sepotong yang Tak Bertulang

Posted in puisi on Agustus 1, 2009 by classically

Sepotong yang Tak Bertulang

Sebidak tanah, kau tebar benih jingga
Haus akan darah, meluap dalam sungai nanak benak

Lucu benar aku ini!
Mengaum pada tembok kekosongan
Merayu pistol yang melepas maut ke arahku
Mencincang buih oleh pisau hati
dan upacara pengantar yang menginjak-injak kepalaku!

Dekat… Dekat benar aku dalam darahku..
Meladeni setiap suruhan sampah mereka
Lalu tanpa kutahu, linggis kepatuhan membelah nadiku
Berlalu-lalang diri dalam pelantaran mereka yang sesat

Tuanku, diri ini mengaku
Dengan lutut penuh derita
dan mulut sebagai peminta

Larutkanlah aku dalam kolam kebijakkan
Biar dapat kugerakkan tongkat kepastian
Bilamana dapat kuteguk airmata Tuan…

Oleh : Lupita

Pemulung Naik KRL untuk Mengubur Anaknya

Posted in jendela berita on Juli 31, 2009 by classically

Dari milis tetangga…semoga ini jadi pembelajaran buat kita.

PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong
mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta
rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6).
Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn)
tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa
KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas
dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban
kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas
karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa
Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari
terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke
Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke
puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan
botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar
bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di
Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan
sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan
kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai
hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa
menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam
gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai
harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat
itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap
di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung..
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan
terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang
Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono
menggendong Khaerunisa menuju stasiun.
Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang
menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh
Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor
spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung
berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi
menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang
ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya
telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh
adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut,
lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono
harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung
sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan
uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di
RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan
Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi
perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia,” ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa
itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan
kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini,
pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin
kata Wardah.