Bunga
Ia mengeluh, pada sebelah kakinya yang timpang. Bernafas memburu, meninggalkan jejak dalam pada tanah lembab. Belum juga pakaiannya kering akibat hujan kemarin. Tetapi ibukota memaksanya kembali beraktivitas. Sengaja ia memutar lebih jauh. Melewati stasiun yang masih dibungkam oleh subuh. Udara dingin meniup mengejek, pakaiannya yang lembab hanya mampu menahan sedikit sisa kehangatannya. Dilihatnya seorang kakek tua duduk ditemani koran dan kopinya yang masih mengepul. Andai aku dapat menikmati kopi hangat itu, batinnya. Tiba-tiba merasa sesuatu yang hangat di pipinya. Air mata.
”Kenapa kau gadis kecil?”
Ia menoleh ke sebelah dan ke arah belakang. Tidak ada siapa-siapa. Kakek itu memang menegurnya. Gadis itu menggeleng lemah. Tubuh kurusnya bergetar cukup hebat akibat udara sisa hujan kemarin malam.
”Kemari.” Kakek itu meletakkan korannya. Sementara gadis kecil itu maju dengan ragu.
”Pakaianmu belum kering benar, mengapa kau keluar dengan pakaian seperti itu di subuh hari begini?” Kakek itu tersenyum sambil menepuk sisa tempat duduk kosong di sampingnya.
”Kemarin malam hujan tiba-tiba, belum sempat saya berlindung. Hari ini saya harus kembali bekerja. Ini satu-satunya yang saya miliki.” tunjuknya pada pakaiannya.
Semoga kakek ini memberiku sedekah, sehingga aku tak perlu terlalu lama mengemis di lampu merah. Biasanya orang-orang membantunya melalui rasa kasihan mereka. Gadis kecil itu selalu menadah untuk mencukupi perutnya yang kurus.
Ha ha ha ha! Kakek itu tertawa mengejutkannya. Mengapa ia tertawa? Bukankah seharusnya ia prihatin? Batinnya kesal bercampur sedih.
”Kakek tidak tahu apa-apa. Tidak ada masalah, tidak harus mengemis untuk mengisi perut. Bisa membeli koran dan kopi hangat.” kata gadis kecil itu dengan sedih. Air matanya kembali menetes. Kata-katanya tadi memang ditujukan untuk menyinggung kakek itu, tapi hatinya sakit mendapati bahwa itu adalah kenyataan.
”Maaf, Nak. Tidak seharusnya Kakek begitu. Ini, untukmu. Tidak usaha bekerja hari ini. Istirahatlah, Nak. Kau bisa sakit.” ujarnya mengeluarkan uang kertas berwarna merah dari saku kemeja putihnya.
Gadis kecil itu terlonjak kaget, itu bukan jumlah yang kecil. Uang makannya selama sebulan! Tapi ia hanya memandangi uang kertas yang masih rapih itu. Tidak, ini bukan jumlah yang seharusnya ia terima. Terlalu besar. Tapi, Kakek itu juga terlihat hidup berkecukupan, tentunya takkan jadi masalah kehilangan uang yang telah diberikannya. Tapi untuk dikembalikan, gadis kecil itu merasa sayang, ia sama sekali belum pernah menyentuh uang dalam jumlah itu.
”Kek, aku mau kembalikan saja uang……”
Kakek itu hilang. Kini ia hanya melihat seorang petugas pembersih yang sedang menyapu stasiun. Ia lalu mendekatinya.
”Permisi.” sapa gadis kecil itu. Petugas pembersih memandanginya dengan pandangan menilai, lalu beralih merendahkan.
”Apa?” tanyanya tak ramah merasa perkerjaannya diganggu.
”Apa Bapak melihat seorang Kakek berkemeja putih yang baru lewat?”
”Tidak.” jawabnya singkat tanpa menoleh.
Aneh.. Mimpikah dirinya? Tapi uang kertas itu masih tergenggam rapih di tangannya.
♣ ♣ ♣
”Hei, bangun! Ayo bangun!” teriak seseorang yang samar-samar didengarnya.
Gadis kecil itu terbangun. Perutnya lapar sekali, karena belum makan dari dua hari lalu. Ia sudah memeriksa tempat sampah kemarin. Tidak ada sisa makanan, hanya ada botol aqua yang sisa sedikit airnya. Ia hanya minum, tapi sisa air itu bahkan tak cukup menghilangakn rasa hausnya. Kemarin gadis kecil itu tak pergi mengemis, ia menuruti Kakek itu untuk beristirahat saja.
Ia sudah tak bisa tidur lagi, seorang petugas jalanan sudah mulai mengusir para pengemis yang numpang tidur gratis di sepanjang jalan raya itu. Kalau petugas itu sudah datang berarti… Gawat, aku kesiangan! Padahal hari ini seharusnya aku mengembalikan uangnya.
Gadis kecil itu bergegas dengan langkah tertatih. Berusaha menjaga keseimbangan pada kaki kirinya yang timpang. Kecelakaan itu terjadi kira-kira setahun yang lalu. Ketika ia terlambat ke tepi saat lampu hijau. Sebuah mobil box menghajar dirinya dari arah samping. Untung saja pengemudinya bertanggung jawab, kalau tidak mungkin ia sudah tak ada saat ini. Apa mungkin lebih baik begitu? Ia menggeleng cepat-cepat. Berusaha memfokuskan dirinya agar secepat mungkin tiba di stasiun.
Kakek itu masih ada, meski kopi nya sudah habis tapi matanya masih sibuk melahap deretan huruf di koran itu.
”Kesiangan?” tanyanya ramah, sepasang matanya beralih menatap gadis kecil itu.
”Ini.” ujarnya menyerahkan uang itu, ”Maaf sudah sedikit lecek, aku menyimpannya di kantong celanaku.”
Kakek itu terkejut sekali. Ia tahu gadis kecil itu kekurangan. Pipinya tirus, tentu ia kekurangan makan.
”Kenapa tak kau gunakan? Apakah Kakek menyinggung perasaanmu?”
Gadis kecil itu bingung, ”Bukan, Kek. Saya hanya merasa jumlahnya terlalu besar. Saya tidak bekerja apapun untuk kakek. Saya juga tidak menolong kakek. Tapi terima kasih, Kek. Baru kali ini saya mempunyai uang sebesar itu, meski hanya semalam.” ujar gadis itu tulus.
Kakek itu tersenyum. Gadis kecil itu begitu murni, tapi sayang ia terlalu banyak berkeluh kesah.
”Siapa namamu?”
”Bunga, Kek.”
”Orangtuamu?”
”Saya tidak tahu siapa ayah saya, tapi ibu saya meninggal setahun lalu. Karena belum cukup usia saya mau dititipkan ke panti asuhan. Tapi daripada di tempat menyeramkan seperti itu. Lebih baik di sini saja.”
Kakek itu mengangguk. Tangan kanannya membelai kepala gadis kecil itu.
”Bunga, uang itu untukmu. Kalau kau tidak mau menggunakannya, anggap saja kakek titip padamu. Boleh?”
Bunga terdiam ragu, tapi kemudian a mengangguk.
”Tapi jika ada keperluan yang mendesak, pakailah. Sebagai gantinya boleh kakek minta sesuatu?”
Bunga mendesah pelan. Pantas saja, mana ada yang gratis di dunia ini.
”Kakek minta apa? Kakek tahu saya tidak punya apapun kecuali pakaian ini. Apa Kakek juga menginginkan pakaian saya?” tanya Bunga lemah.
Kakek itu menggeleng, ”Kau masih punya hati, Bunga. Masih ada pendirian yang kuat melebihi anak seusiamu. Itu adalah hartamu. Kau menurut untuk beristirahat kemarin, meski uang itu sama sekali tak kau gunakan. Pasti kau belum makan, ini kakek berikan. Kakek sudah kenyang.” ujarnya menyerahkan roti.
Bunga terkejut, ”Terima kasih.”
”Tapi harta milikki tak dapat membuatku kenyang, tak dapat melindungi tubuhku dari terpaan angin.” tunjuknya pada kaki kirinya.
”Tapi kau sehat.”
Bunga menoleh pada Kakek itu karena jawaban singkatnya. Tapi ia dikejutkan oleh sepasang mata miliknya.
”Tujuh tahun lalu kakek masih memiliki seorang anak. Ia cantik, seperti ibunya.”
”Maksudnya sekarang kakek kehilangan putri kakek?”
Kakek itu mengangguk, ”Kakek yang salah. Kakek mengusirnya dari rumah. Menempatkan dirinya sendirian tanpa tempat tidur, uang dan makanan.”
”Kakek mengusirnya?” tanay Bunga tak percaya. Ia menelan rotinya dengan paksa.
”Hidup ini tak rumit. Lihat saja peta, begitu banyak wilayah kecil, bisa ribuan, bisa puluhan ribu. Dan dalam setiap wilayah itu terisi begitu banyak manusia. Dalam setiap manusia terisi begitu banyak perasaan. Ada emosi, ada marah, ada sedih, ada senang. Tapi yang paling sedikit adalah rasa maaf.
Itu yang membuat kakek melupakan kasih. Menggelapkan mata karena kesalahan yang putriku perbuat. Dan menenggelamkan kakek pada kolam penyesalan.”
Setelah itu mereka berdua terdiam dalam sepi. Tak lama stasiun mulai ramai. Mereka pergi dengan pikiran masing-masing. Sedikit banyak Bunga mengerti perasaan kakek itu. Meski ia masih anak kecil, tapi kehidupan yang ia jalani mengasah tajam perasaannya.
♣ ♣ ♣
Esoknya ia bangun subuh. Ia berusaha berlari kencang dengan kaki kirinya, mencoba untuk menyeimbangkan langkahnya. Meski ia tahu waktu masih awal, ia ingin bertanya sesuatu pada kakek itu. Hasil mengemis kemarin tak banyak. Tapi setidaknya sudah dapat dibelinya sesendok nasi dengan garam. Uang pemberian dari Kakek itu masih terlipat apik di kantong celananya yang lusuh.
”Kakek!” panggilnya dari kejauhan. Kakek itu menoleh, menggerakkan tangannya untuk menyuruh gadis kecil itu mendekat. Bunga menghampirinya.
”Kau bersemangat sekali.”
Ia buru-buru mengangguk, ”Ada yang ingin kutanyakan, Kek.”
Kakek itu menatapnya dengan pandangan bingung, tapi ia segera tersenyum. ”Silahkan.”
Baru saja Bunga ingin membuka mulutnya, Kakek itu bergetar hebat. Seluruh tubuhnya kejang, dan tangan kanannya memegangi dadanya.
”Tuan Besar!” teriak seseorang berjas hitam dari jauh. Orang itu berlari secepat kilat, dan memapah Kakek pergi.
Sementara Bunga menangis melihat keadaan Kakek. Kakek tampak sangat kesakitan. Tolonglah Tuhan, Kakek orang yang baik. Selamatkan nyawanya!
♣ ♣ ♣
Keesokan harinya, Bungan berlari cepat menuju stasiun. Pikirannya melayang bertanya bagaimana keadaan Kakek saat itu, hingga ia berkali-kali terjatuh dan celananya yang lusuh dan tipis robek karena gesekan aspal. Tapi ia kembali bangun dan berlari, berdoa semoga semua baik-baik saja.
Bunga kecewa mendapati dirinya hanya sendiri di stasiun itu. Apa karena ia datang terlalu awal? Mungkin saja Kakek belum datang. Ia mencoba sebisa mungkin menenangkan dirinya. Dalam empat hari ia sudah memiliki ikatan yang dalam pada Kakek itu. Kakek itu sendirian, sama sepertinya.
”Permisi, Dik” sapa seseorang berjas hitam rapih. Dari penampilannya Bunga tahu orang itu lebih dari sekedar berkecukupan.
”Bapak, memanggil saya?”
Ia mengagguk, dan duduk di samping Bunga.
”Pak Baston sedang dirawat, ia tak dapat datang. Sebenarnya beliau adalah sahabat sekaligus klien saya. Sudah lama saya tak pernah melihatnya tersenyum.”
”Klien? Bapak siapa?” tanya Bunga bingung. Tapi ia tetap tenang, karena pria di sampingnya tetap berperilaku sopan.
”Saya pengacaranya. Pak Baston mempunyai penyakit jantung sejak kejadian itu. Anda adalah pewaris tunggal beliau.”
”Apa?!” Bunga membelalak terkejut. Apa karena ia dekat dengan Kakek sehingga Kakek memintanya menjadi pewaris? Tapi Bunga sama sekali tak menyangka, alasannya terlalu sederhana.
”Saya hanya mengobrol saja dengannya. Saya tidak menolong Kakek apapun. Kalaupun ini imbalan mengobrol. Pantaskah imbalannya, Om?”
Orang itu tidak menjawab, hanya menggeleng.
”Kau cucunya. Edelweiss Helene Prima. Prima adalah nama keluargamu, Helene adalah nama ibumu, betul?”
”Be..betul. Tapi nama saya Bunga” Bunga menjawab tergagap.
”Edelweiss itu nama aslimu, diambil dari nama bunga di wilayah Eropa. Pihak kami telah menyelidikinya, tak mungkin salah. Data-data yang kami peroleh lengkap, berikut data kesehatanmu dari Rumah Sakit Kasih. Kau pernah dirawat di sana, betul?”
Bunga mengangguk, ia ingat dirawat di sana setelah kecelakaan tabrakan itu. Pantas saja ia merasa dekat sekali dengan Kakek itu. Ikatan darah memang tak dapat dipungkiri. Ternyata beliau adalah Kakek kandungnya sendiri.
”Tak mungkin salah. Helene mengganti nama putrinya demi menyembunyikanmu.”
”Menyembunyikanku? Dari apa? Selama hidup, aku dan Mama selalu hidup tenang. Meski kekurangan, tapi Mama tak pernah berhutang.”
”Pak Baston memiliki dua putri. Ibumu adalah putri sulung, dan Bu Hilda adalah putri bungsu. Bu Hilda menolak meneruskan Prima, beliau melanjutkan pendidikannya sebagai ilmuwan, dan hingga saat ini belum berumah tangga. Kau satu-satunya ahli waris Prima Company. Ibumu telah dicoret dari nama keluarga Prima sejak ia hamil di luar nikah. Tapi bagaimanapun, dalam darahmu masih mengalir darah Pak Baston.”
Bunga membisu.
”Bisa aku bertemu dengan Kakek? Aku masih berhutang sesuatu padanya.”
Mereka tiba di Rumah Sakit setengah jam kemudian. Ruangan Kakek Baston sangat luas, tapi tak seorangpun mengunggunya dengan kasih sayang di sana. Ruangan besar itu begitu dingin, tubuh Kakek terbaring lemah di ranjang besar Rumah Sakit.
”Kakek..” sapa Bunga, pipinya basah penuh air mata ketika melihat keadaan kakeknya.
Kakek Baston tak mengatakan apapun, tapi ia tetap tersenyum melihat kedatangan Bunga.
”Kek, Bunga mau bertanya. Apa yang Kakek minta dari Bunga? Kakek masih ingat kan Kakek minta sesuatu pada Bunga. Oh iya, ini uang Kakek, masih ada, belum Bunga pakai. Tapi maaf Kek, sedikit robek. Tadi pagi Bunga terjatuh saat berlari menuju stasiun.”
Kakek Baston adalah seseorang yang kuat, ia memimpin banyak perusahaan besar. Gengsinya sangat tinggi. Tapi kali ini ia menangis, air matanya mengalir perlahan. Dirinya kini tidak lagi gagah seperti dulu.
”Maafkan Kakek telah mengusir Mamamu.”
Bunga menggeleng, ia menggenggam tangan Kakeknya sekuat mungkin. Takut kalau Kakeknya meninggalkannya sendirian. Padahal baru saja ia tahu ia masih memiliki keluarga. Bunga sudah mendengar apa yang terjadi di masa lampau dari pengacara Kakek.
”Kakek minta Bunga.. Tolong… Kembali pada keluarga Prima.Tidak apa kalau Bunga tak mau melanjutkan perusahaan. Tapi Bunga tidak boleh mengemis lagi. Bunga lihat kan yang Kakek katakan benar? Bunga masih memiliki kesehatan. Itu harta yang tak ternilai. Lihat saja, Kakek mempunyai uang untuk membeli villa mahal. Tapi apa Kakek bisa tinggal di sana sementara kesehatan Kakek buruk?”
”Kakek masih pucat, istirahat dulu, Kek.”
Kakek Baston menggeleng, ia tahu kalau tidak sekarang maka ia takkan punya kesempatan lagi. Ia sadar waktunya sudah tak lama.
”Mengenai kakimu, Kakek dengar dapat dilakukan operasi untuk memulihkannya. Pengacara Kakek yang akan mengurus semuanya.”
Uhuukk! Kakek terbatuk keras. Jantungnya kembali bereaksi, dengan segera Bunga memanggil perawat. Sepanjang penantiannya, ia berdoa. Kakek selamat atau tidak itu tergantung yang di atas. Allah memiliki rencana yang sempurna, Ia tahu yang terbaik. Bunga hanya minta agar Kakek diberikan tempat di sisi-Nya kalau memang sudah waktunya. Dengan hidup pun Kakek harus menelan berbagai obat setiap harinya, terbaring di ranjang dengan berbagai tusukan selang di sepanjang tubuhnya. Tapi Bunga tetap berharap mujizat terjadi.
Baru saja ia selesai berdoa, Bunga melihat Kakeknya melewati jalan sepanjang Rumah Sakit itu. Ia tak mengenakan pakaian biru milik Rumah Sakit. Kakek mengenakan baju putih, ia tersenyum, melambaikan tangannya pada Bunga. Gadis kecil itu tersenyum membalas, air matanya tumpah.
Dokter keluar dari ruangan itu. Pengacara keluarga Prima segera menghampirinya, ”Bagaimana, Dok?”
Dokter itu menggeleng menampilkan raut sedih dan menguatkan.
Pengacara itu segera menghampiri Bunga, ”Tabah, Nak.”
”Tidak, Om. Bagaimana saya sedih kalau Kakek sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang?”
Laki-laki itu tersenyum mendengar jawaban tulus Bunga. Ia memang pantas menyandang nama keluarga Prima.
”Satu lagi, Om.”
Perkataan tiba-tiba gadis itu membuatnya sedikit tersentak.
”Saya akan meneruskan bisnis yang telah Kakek bangun. Saya akan sekolah bisnis.”
Operasi yang dijalani Bunga berjalan sempurna. Bunga memimpin Prima Company beserta ribuan perkerja di bawahnya dengan sukses. Perusahaan itu maju pesat, dan ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang dermawan. Setiap tahun lima persen dari pendapatannya sendiri disumbangkan pada mereka yang tak seberuntung dirinya.