Feeds:
Tulisan
Komentar

Demokrasi yang Bagaimana?

Maraknya aksi pembungkaman karya intelektual seperti halnya buku ternyata memicu perdebatan diantara civitas akademika. Banyak pendapat yang dilontarkan, emosi pun tak terhindarkan jika debat telah berlangsung. Kubu pro menyatakan bahwa demokrasi kita bukan demokrasi liberal. Kubu kontra mendebat bahwa sesungguhnya kebebasan berpendapat itu memperoleh hak secara legal di tangan hukum. Mari kita telusuri beberapa buku yang mendapat blokir dari pemerintah untuk menerbitkannya.

Trilogi Dosa Politik oleh Boni Hagens. Tentunya para pengamat informasi politik tahu siapa tokoh ini. Ia sering menjadi tamu dalam acara isu hangat politik. Buku ini memuat tentang pengkhianatan terhadap jiwa reformasi yang persis tumbuh setelah ’98. Dalam kurun waktu sebelas tahun ini ternyata ada juga pendapat yang masih dibungkam. Dan yang menjadi pertanyaan apakah pihak oposisi kembali diharamkan?

Buku kedua, Lekra tak Membakar Buku karya Muhidin M. Dahlan. Penulis mencari sumber dan meriset langsung ke Gedung Perpustakaan Nasional di Salemba dan Perpustakaan daerah Yogyakarta. Buku ini bercerita mengenai PKI tahun ‘50an. Selama tiga puluh tahun ternyata menurut risetnya Lekra bukanlah underbow PKI. Hal ini dibuktikan karena terbukti bahwa PKI membentuk organisasi sendiri di luar Lekra. Pertanyaannya, jika memang Lekra adalah underbow PKI, mengapa PKI mesti membentuk organisasi lain? Sebagai informasi tambahan, Muhidin M. Dahlan juga menulis buku berjudul Sugus Merah. Ia memberi kepastian bahwa semua informasi yang terdapat dalam buku merupakan sebuah kebenaran.

Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan MM ternyata juga mendapat pelarangan terbit. Dalam buku ini bukan sepenuhnya mengenai kepercayaan. Atau yang lebih tepat, ‘aliran’ seperti yang diucapkannya dengan tegas. Bagaimana kita bisa melihat politik dan agama ternyata berhubungan sangat erat.

Selanjutnya, Dalih Pembunuhan Massal G 30/ S dan Kudeta Soeharto karya John Rossa dan disunting oleh Hilmar Farid. Penulis mengaku tertarik untuk melakukan risetnya di Indonesia. Buku ini hadir di kancah internasional dan mendapatkan tempat sebagai buku penjualan terbaik tahun lalu. Di sini diungkapkan bahwa ternyata Gerakan tiga puluh September tiga bukan seratus persen karena keterlibatan PKI. Itulah alasannya mengapa penulis menggunakan judul G 30 S (bukannya G 3O S/PKI). Selain itu, transisi era orde lama ke orde baru juga disorot dengan terbuka, menggunakan analisis dan sintaksis yang tajam. Pernyataan frontal dituliskan beliau ternyata malah di blok oleh pemerintah.

Ternyata masih cukup banyak buku yang telah mendapat larangan terbit dari pemerintah. Tidak bisa dijelaskan satu persatu dan semuanya mempunyai alasan yang sama, yaitu dianggap akan mengganggu opini sosial dan memicu tindakan kolektif yang antagonis.

Pertanyaannya, apakah sebuah buku dapat menjadi sumber masalah? Pernahkan sebuah pemikiran eksklusif menjadi pemicu sebuah tragedi? Kembali ke karya-karya Karl Marx, Hegel, dll yang mendapat sambutan luar biasa di Eropa dan membawa perubahan dasyat yaitu mengantarkan pada sebuah revolusi.

Bagaimana dengan perspektif pribadi? Bukankah orang belajar melalui buku? Bahwa memang benar pernah ada pemikiran seperti itu. Pembaca yang memang benar menyebut dirinya cerdas tidak akan begitu saja percaya dengan apa yang tertinta, tetapi mampu melakukan sintaksis fakta dan membuat sebuah pemikiran baru yang lebih konkret sehingga nilai positif terhadap karya-karya intektual dapat menanjak.

Oleh : Lupita Wijaya/ 4 Februari ‘10

Jurnal? PR?

Libur kenaikan semester di bangku kuliah memang berbeda. Mungkin karena baru pertama kalinya saya merasakannya. Maklum, masih tingkat pertama. Tetapi pada semester baru kali ini saya harus sudah memutuskan pengambilan jurusan. Seperti ketetapan universitas bahwa untuk Program Ilmu Komunikasi diwajibkan menetapkan penjurusan di semester tiga. Apakah masuk jurnalistik? Atau Public Relations?

Sebenarnya cita-cita saya awalnya adalah menjadi seorang psikolog dan bekerja di bidang medis. Tetapi sepertinya belum saatnya, atau tepatnya saya harus menunggu. Untuk mengatasi hal ini akhirnya saya memilih alternatif kedua, yaitu komunikasi karena saya suka menulis. Tetapi semakin di tengah jalan saya semakin resah, sepertinya kedua orangtua kurang setuju saya menulis. Selain bekerja yang tak tentu waktu sebagai penulis saya harus siap menghadapi segala macam tuntutan. Mulai dari deadline, opini publik, pemerintah, dll. Ringkasnya, bergerak di bidang media massa sangat tidak mudah. Untuk itu saya benar-benar perlu restu dari kedua orangtua, ditambah saya merupakan anak tunggal. Bukannya merasa dimanja, saya merasa tuntutan dan kewajiban yang saya jalankan harus optimal karena kedua orangtua bergantung pada saya.

Mengenai hal Pulic Relations, jujur saja dibandingkan dengan jurnalistik pekerjaan ini lebih banyak membutuhkan kerja sama (saya tidak bilang di jurnalistik tidak perlu kerja sama). Masalahnya, jujur saja, saya kurang bisa bekerja sama. Fantastis. Persimpangan memang selalu membuat pilihat sulit. Saya bukan hanya harus berpikir dari perspektif lain, tapi juga harus melihat akibat apa dari perubahan yang saya pilih.

Oleh : LW

Senja di Pantai Penghujung

Berbias sinar jingga aku berpatuh, meratap arak-arakan awan yang menggulung bak kapas
Lupa tujuanku, untuk apa aku datang kemari
Aku cinta kehidupan, dasarnya desah nafas ini masih kencang mengadu
Di situ sepi, hawa dingin mengunci rapat bibirku. Tak bersuara, nyaris tak bernafas.

Lewat pula seekor merpati, “Jangan kau maju.” katanya
Aku hendak membalas, tapi tak sekata pun keluar dari bibirku
Dalam air yang tak dapat kutembus dasarnya melalui indera ini,

Aku merasa tercekik, meraba-raba sekelilingku
Tepat di samping, ada secarik kertas dan sebuah pena
Kulupakan sudah tujuan awalku
Kini.. Sudah kutemui tempat pelarianku

Oleh : Lupita

Kelompok ini muncul karena salah satu sebab, orang mulai menyadari bahwa suara satu orang (misalnya dalam pemilu) sangat kecil pengaruhnya, terutama di negara-negara yang penduduknya berjumlah besar. Melalui kegiatan menggabungkan diri dengan orang lain menjadi suatu kelompok, diharapkan tuntutan mereka akan lebih didengar oleh pemerintah. Tujuan kelompok ini ialah memengaruhi kebijakan pemerintah agar lebih menguntungkan mereka.
Apakah gerakan sosial itu? T. Tarrow dalam bukunya Power in Movement (1994) berpendapat bahwa:
Social Movements adalah tantangan kolektif oleh orang-orang yang memunyai tujuan bersama berbasis solidaritas, (yang dilaksanakan) melalui interaksi secara terus-menerus dengan para elite, lawan-lawannya, dan pejabat-pejabat.
Gerakan ini merupakan bentuk perilaku kolektif yang berakar dalam kepercayaan dan nilai-nilai bersama.
Kelompok kepentingan muncul pertama kali pada awal abad ke-19. Organisasi internal lebih longgar dibanding dengan parpol. Pada 1960-an timbul fenomena baru, sebagai lanjutan dari generasi sosial lama, yaitu Gerakan Sosial Baru. Gerakan sosial Baru ini berkembang menjadi gerakan yang sangat dinamis, terutama dengan timbulnya pergolakan di negara-negara Eropa Timur yang ingin melepaskan diri dari otorianisme menuju demokrasi. Tujuannya meningkatkan kualitas hidup. Salah satu caranya ialah dengan mendirikan berbagai kelompok yang peduli pada masalah baru.
Beragam kelompok dengan beragam kepentingan biasanya bekerja sama. Masing-masing kelompok bekerja sama dengan kelompok lain yang kira-kira sama orientasinya. Jaringan kerja sangat luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri berkat proses globalisasi.
Sesudah memelajari berbagai analisis mengenai NSM, Enrique Larana, Hank Johnston, dan Joseph R. Gusfield (1994) samapi pada suatu kesimpulan yang diutarakan secara singkat di bawah ini.
1. Basis NSM bersifat lintas kelas sosial. Latar belakang status sosial peserta yang tersebar seperti golongan muda, gender, dan mereka yang memunyai perbedaan orientasi seksualitas.
2. Karakteristik sosial mereka sangat berbeda dari ciri gerakan buruh, maupun dengan konsepsi Marxis bahwa ideologi merupakan unsur yang memersatukan. Mereka menganut pluralisme dalam ide dan nilai, berorientasi pragmatis dan memerjuangkan partisipasi dalam proses membuat keputusan.
3. Dalam kehidupan sehari-hari, NSM menumbuhkan dimensi identitas baik NSM yang baru maupun yang sebelumnya lemah; sifatnya lebih memerhatikan masalah identitas daripada masalah bidang ekonomi.
4. Hubungan antara individu dan kolektivitas kabur. Gerakan-gerakan ini lebih sering dilaksanakan dengan kegiatan individual dibanding melalui kelompok termobilisasi.
5. NSM sering menyangkut hal-hal yang sifatnya pribadi seperti aborsi, antimerokok, dan pengobatan alternatif.
6. Taktik mobilisasi yang tidak dipakai oleh NSM ialah melalui antikekerasan dan ketidakpatuhan, hal yang jauh berbeda dengan taktik yang dipakai gerakan buruh tradisional.
7. Berkembangnya kelompok NSM dipicu antara kain oleh timbulnya krisis kepercayaan terhadap sarana partisipasi politik, terutama perilaku partai masaa tradisional.
8. Berbeda dengan birokrasi dari partai-partai tradisional, kelommpok NSM cenderung tersegmentasi, tersebar luas tanpa fokus, dan tidak sentralitis.

Beberapa Jenis Kelompok
♦ Kelompok Anomi
Kelompok-kelompok ini tidak memunyai organisasi, tetapi individu-individu yang terlibat merasa memunyai perasaan frustasi dan ketidakpuasan yang sama. Sekalipun tidak terorganisir dengan rapih, dapat saja kelompok ini secara spontan mengadakan aksi massal jika tiba-tiba timbul frustasi dan kekecewaan mengenai sesuatu masalah.
Ketidakpuasan ini diungkapkan melalui demonstrasi dan pemogokan yang tak terkontrol, yang kadang berkahir dengan kekerasan.

♦ Kelompok Nonasosiasional
Tumbuh berdasarkan rasa solidaritas pada sanak saudara, kerabat, agama, wilayah, kelompok etnis, dan perkerjaan. Kelompok-kelompok ini biasanya tidak aktif secara politik dan tidak memunyai organisasi ketat, walaupun lebih memunyai ikatan daripada kelompok anomi.

♦ Kelompok Institusional
Kelompok-kelompok formal yang berada dalam atau bekerja sama secara erat dengan pemerintahan seperti birokrasi dan kelompok militer.

♦ Kelompok Asosiasional
Terdiri atas serikat buruh, kamar dagang, asosiasi etnis dan agama. Organisasi ini dibentuk dengan sautu tujuan eksplisit, memunyai organisasi yang baik dengan staf yang bekerja penuh waktu. Hal ini telah menjadikan mereka lebih efektif daripada kelompok lain. Contoh : KADIN, IDI.

♦ Lembaga Swadaya Masyarakat
Sejak Indonesia merdeka, kehadiran LSN pertama kali tejadi pada 1957 dengan berdirinya PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia). Lembaga yang pada akhirnya menjadi mitra pemerintah ini menjadikan pembinaan keluarga yang sehat sebagai fokus kegiatannya.
Menjelang 1960-an, lahir juga LSM-LSM baru. Pada masa ini muncul kesadaran bahwa kemiskinan dan masalah yang berkaitan dengan itu tak dapat hanya diatasi dengan menyediakan obat-obatan, bahan pangan, dan sejenisnya. Sebaliknya, perbaikan taraf hidup masyarakat miskin harus dilakukan dengan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatasi masalah.
Keadaan mulai menjadi lebih kondusif bagi LSM dan keormasan pada masa setelah jatuhnya Presiden Soeharto atau yang lebih dikenal dengan masa Reformasi. LSM dan organisasi-organisasi sejenis bermunculan, dan harapan bahwa pranta-pranata sosial akan berkembang lagi mulai muncul.
Dengan mendasarkan pada analisa Hope dan Timel yang kemudian dilengkapi dengan pemikiran Eldridge dan Othari serta analisis ideologi-ideologi utama dunia oleh Baradat, Roem Topatimasang mengemukakan bahwa dilihat dari sudut orientasi, LSM di Indonesia dapat dibagi dalam lima kelompok paradigma.
Kelompok pertama, kesejahteraan melihat bahwa sebab-sebab kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat adalah kekuatan yang berada di luar kendali manusia.
Kelompok kedua, yaitu LSM penganut paradigma moderenisasi. LSM ini memandang bahwa keterbelakangan, termasuk kemiskinan, disebabkan oleh rendahnya pendidikan, penghasilan, keterampilan dan juga kesehatran.
Kelompok ketiga adalah yang berparadigma reformasi. LSM kelompok ini berkeyakinan bahwa sumber dari masalah-masalah sosial adalah lemahnya pendidikan, korupsi, mismanajemen, dan inefesiensi.
Jenis LSM keempat adalah kelompok LSM berparadigma liberasi atau pembebasan. LSM kategori ini berpandangan bahwa penyebab segala keterbelakangan, termasuk kemiskinan adalah penindasan, pengisapan, atau bentuk “penindasan”. Gaya kerjanya biasanya populis, militan , kerja tim, dan berdisiplin ketat.
Kelima adalah LSM pemeluk paradigma transformasi. LSM ini menganggap bahwa sumber keterbelakangan dan kemiskinan adalah ketidakadilan tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Karena itu mereka sangat berkeinginan menciptakan tatanan baru yang lebih adil. Kegiatannya biasanya dilakukan memalui penyandaran politik, pengorganisaian rakyat, mobilasis aksi, dan membangun jaringan advokasi.

source : Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka

Seikat Kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, “Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!”

Penjaga kuburan itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, “Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.”

“O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda.” jawab pria itu.

“Apa, maaf?” tanya wanita itu denga gusar.

“Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,” jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

“Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal..

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saati ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!”

Keempat Orang Istri

Dahulu, hiduplah seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang istri. Ia paling mencintai istrinya yang ke-4 dan mendandaninya dengan jubah-jubah mewah dan mengajaknya ke restoran mewah. Ia sangat memperhatikan istrinya yang ke-4 dan hanya memberikan yang terbaik kepadanya.

Ia juga sangat mencintai istrinya yang ke-3. Ia sangat bangga akan istrinya yang ke-3 dan selalu ingin memamerkan istrinya yang ke-3 kepada teman-temannya. Akan tetapi, sang pedagang selalu takut kalau-kalau istrinya yang ke-3 akan meninggalkannya demi pria lain.

Ia juga mencintai istrinya yang ke-2. Istrinya yang ke-2 penuh dengan pertimbangan, selalu sabar dan bahkan menjadi orang kepercayaan sang pedagang. Setiap kali pedagang menghadapi masalah, ia selalu berpaling kepada istrinya yang ke-2 dan istrinya yang ke-2 akan selalu mencarikan jalan keluar dan menopangnya melewati masa-masa sulit.

Istri yang pertama adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan sumbangan besar dalam memelihara kekayaan sang pedagang dan bisnisnya serta mengurus rumah tangganya. Akan tetapi, sang pedagang tidak mencintai istri yang pertama dan walaupun istri yang pertama ini sangat mencintainya, sang pedagang hampir-hampir tidak memperhatikan istrinya yang pertama ini.

Pada suatu hari, sang pedagang jatuh sakit, tidak lama kemudian, ia tahu bahwa ia akan segera meninggal. Ia merenungkan kehidupannya yang mewah dan berkata dalam hati, “Sekarang aku mempunyai 4 orang istri, akan tetapi, ketika aku meninggal nanti, aku akan sendirian. Betapa aku akan kesepian nanti!”

Demikianlah ia bertanya kepada istrinya yang ke-4. “Aku paling mencintaimu, mendandanimu dengan pakaian terbaik dan selalu memperhatikanmu. Sekarang aku sekarat, maukah engkau mengikuti aku dan menemani aku?”
“Enak aja!” Jawab sang istri ke-4 lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Jawaban tersebut menusuk seperti pisau yang tajam langsung ke jantung sang pedagang. Lalu sang pedagang yang sedih bertanya kepada istrinya ke-3, “Aku telah demikian mencintaimu seumur hidupku, Sekarang aku sekarat, maukah engkau mengikuti aku dan menemani aku?”
“Tidak !” demikian sang istri ke-3 menjawab, “Kehidupan demikian baik di sini! Aku akan menikah lagi setelah engkau meninggal!”
Jantung sang pedagang lemas dan berubah dingin.

Lalu ia bertanya kepada istrinya yang ke-2, “Aku selalu berpaling kepadamu meminta tolong dan engkau selalu menolong aku. Sekarang aku kembali membutuhkan pertolonganmu. Ketika aku meninggal nanti, maukah engkau mengikuti aku dan menemani aku?”
“Maaf, kali ini aku tidak bisa menolongmu !” demikian sang istri ke-2 menjawab, “Maksimal, aku hanya bisa mengantarkanmu ke liang kubur.”
Jawaban tersebut terasa seperti sambaran guntur dan hati sang pedagang remuk.
Lalu terdengarlah suara memanggil : “Aku akan berpulang bersamamu. Aku akan mengikutimu kemana pun engkau pergi.” Sang pedagang menengok dan tampaklah istrinya yang pertama. Istrinya demikian kurus, seolah-olah menderita gizi buruk. Sang berkabung, sang pedagang mengatakan, “Seharusnya aku lebih memperhatikanmu ketika aku masih sanggup !”

Sesungguhnya, kita semua mempunyai empat orang istri dalam kehidupan kita.

Istri ke-4 adalah tubuh kita, Seberapa pun banyaknya waktu dan upaya yang kita curahkan untuk menjadikannya tampak baik, tubuh akan tetap meninggalkan kita ketika kita meninggal.

Istri ke-3 adalah Harta benda kita, status dan kekayaan kita. Ketika kita meninggal, istri ke-3 akan jatuh ke tangan orang lain.

Istri ke-2 adalah keluarga dan teman-teman kita. Seberapa pun dekatnya mereka salama kita hidup, maksimal mereka hanya dapat mendampingi kita hingga ke liang kubur.

Istri yang pertama sesungguhnya adalah Jiwa kita, yang sering ditelantarkan dalam upaya kita memburu harta benda, kekayaan, dan kenikmatan seksual.

Coba anda menerkanya. Jiwa kita itulah satu-satunya yang akan mengikuti kita kemana pun kita pergi. Mungkin ada baiknya kita merawat dan menguatkannya sekarang dari pada menunda hingga kita sudah menjelang ajal untuk meratap.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang
ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang
letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di
sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk
apa ? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon
dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan
kapak.

Inilah yang mereka lalukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati.
Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan
memanjat hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada
di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu.
Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh
hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki
itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu
dahan-dahannya juga akan mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu
akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka
telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap
mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut
kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah,
sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk
primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat berharga sekali! Yang
jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada
mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ?
Ayo cepat!
Dasar lelet!
Bego banget sih!

Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
Jangan main-main disini!
Berisik !

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda
karena Anda merasa sakit hati?
Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak!
Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa !
Aduuuuh, perempuan kampungan banget sih !?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya?
Stupid, soal mudah begitu aja nggak bisa!. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal, ?
Eh tahu ngak ? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel!
Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
Sial! Kerja gini nggak becus? Ngapain gue gaji elu?

Ingatlah ! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa
jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan
oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa
setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang
yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan
kita. Teriakan-teriakan, yang
kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya
akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah
untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita
perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita
berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan ?
Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan
teriakan-teriakan padahal jarak ereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka
dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka
harus saling berteriak !

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha
melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi kerena
perasaan-perasaan dendam,benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita
berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada
orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati,
janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda
ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda,
selalulah berteriak. Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan
terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan
teriakan balik, sebagai balasannya.”

Bunga

Bunga

Ia mengeluh, pada sebelah kakinya yang timpang. Bernafas memburu, meninggalkan jejak dalam pada tanah lembab. Belum juga pakaiannya kering akibat hujan kemarin. Tetapi ibukota memaksanya kembali beraktivitas. Sengaja ia memutar lebih jauh. Melewati stasiun yang masih dibungkam oleh subuh. Udara dingin meniup mengejek, pakaiannya yang lembab hanya mampu menahan sedikit sisa kehangatannya. Dilihatnya seorang kakek tua duduk ditemani koran dan kopinya yang masih mengepul. Andai aku dapat menikmati kopi hangat itu, batinnya. Tiba-tiba merasa sesuatu yang hangat di pipinya. Air mata.
”Kenapa kau gadis kecil?”
Ia menoleh ke sebelah dan ke arah belakang. Tidak ada siapa-siapa. Kakek itu memang menegurnya. Gadis itu menggeleng lemah. Tubuh kurusnya bergetar cukup hebat akibat udara sisa hujan kemarin malam.
”Kemari.” Kakek itu meletakkan korannya. Sementara gadis kecil itu maju dengan ragu.
”Pakaianmu belum kering benar, mengapa kau keluar dengan pakaian seperti itu di subuh hari begini?” Kakek itu tersenyum sambil menepuk sisa tempat duduk kosong di sampingnya.
”Kemarin malam hujan tiba-tiba, belum sempat saya berlindung. Hari ini saya harus kembali bekerja. Ini satu-satunya yang saya miliki.” tunjuknya pada pakaiannya.
Semoga kakek ini memberiku sedekah, sehingga aku tak perlu terlalu lama mengemis di lampu merah. Biasanya orang-orang membantunya melalui rasa kasihan mereka. Gadis kecil itu selalu menadah untuk mencukupi perutnya yang kurus.
Ha ha ha ha! Kakek itu tertawa mengejutkannya. Mengapa ia tertawa? Bukankah seharusnya ia prihatin? Batinnya kesal bercampur sedih.
”Kakek tidak tahu apa-apa. Tidak ada masalah, tidak harus mengemis untuk mengisi perut. Bisa membeli koran dan kopi hangat.” kata gadis kecil itu dengan sedih. Air matanya kembali menetes. Kata-katanya tadi memang ditujukan untuk menyinggung kakek itu, tapi hatinya sakit mendapati bahwa itu adalah kenyataan.
”Maaf, Nak. Tidak seharusnya Kakek begitu. Ini, untukmu. Tidak usaha bekerja hari ini. Istirahatlah, Nak. Kau bisa sakit.” ujarnya mengeluarkan uang kertas berwarna merah dari saku kemeja putihnya.
Gadis kecil itu terlonjak kaget, itu bukan jumlah yang kecil. Uang makannya selama sebulan! Tapi ia hanya memandangi uang kertas yang masih rapih itu. Tidak, ini bukan jumlah yang seharusnya ia terima. Terlalu besar. Tapi, Kakek itu juga terlihat hidup berkecukupan, tentunya takkan jadi masalah kehilangan uang yang telah diberikannya. Tapi untuk dikembalikan, gadis kecil itu merasa sayang, ia sama sekali belum pernah menyentuh uang dalam jumlah itu.
”Kek, aku mau kembalikan saja uang……”
Kakek itu hilang. Kini ia hanya melihat seorang petugas pembersih yang sedang menyapu stasiun. Ia lalu mendekatinya.
”Permisi.” sapa gadis kecil itu. Petugas pembersih memandanginya dengan pandangan menilai, lalu beralih merendahkan.
”Apa?” tanyanya tak ramah merasa perkerjaannya diganggu.
”Apa Bapak melihat seorang Kakek berkemeja putih yang baru lewat?”
”Tidak.” jawabnya singkat tanpa menoleh.
Aneh.. Mimpikah dirinya? Tapi uang kertas itu masih tergenggam rapih di tangannya.

♣ ♣ ♣

”Hei, bangun! Ayo bangun!” teriak seseorang yang samar-samar didengarnya.
Gadis kecil itu terbangun. Perutnya lapar sekali, karena belum makan dari dua hari lalu. Ia sudah memeriksa tempat sampah kemarin. Tidak ada sisa makanan, hanya ada botol aqua yang sisa sedikit airnya. Ia hanya minum, tapi sisa air itu bahkan tak cukup menghilangakn rasa hausnya. Kemarin gadis kecil itu tak pergi mengemis, ia menuruti Kakek itu untuk beristirahat saja.
Ia sudah tak bisa tidur lagi, seorang petugas jalanan sudah mulai mengusir para pengemis yang numpang tidur gratis di sepanjang jalan raya itu. Kalau petugas itu sudah datang berarti… Gawat, aku kesiangan! Padahal hari ini seharusnya aku mengembalikan uangnya.
Gadis kecil itu bergegas dengan langkah tertatih. Berusaha menjaga keseimbangan pada kaki kirinya yang timpang. Kecelakaan itu terjadi kira-kira setahun yang lalu. Ketika ia terlambat ke tepi saat lampu hijau. Sebuah mobil box menghajar dirinya dari arah samping. Untung saja pengemudinya bertanggung jawab, kalau tidak mungkin ia sudah tak ada saat ini. Apa mungkin lebih baik begitu? Ia menggeleng cepat-cepat. Berusaha memfokuskan dirinya agar secepat mungkin tiba di stasiun.
Kakek itu masih ada, meski kopi nya sudah habis tapi matanya masih sibuk melahap deretan huruf di koran itu.
”Kesiangan?” tanyanya ramah, sepasang matanya beralih menatap gadis kecil itu.
”Ini.” ujarnya menyerahkan uang itu, ”Maaf sudah sedikit lecek, aku menyimpannya di kantong celanaku.”
Kakek itu terkejut sekali. Ia tahu gadis kecil itu kekurangan. Pipinya tirus, tentu ia kekurangan makan.
”Kenapa tak kau gunakan? Apakah Kakek menyinggung perasaanmu?”
Gadis kecil itu bingung, ”Bukan, Kek. Saya hanya merasa jumlahnya terlalu besar. Saya tidak bekerja apapun untuk kakek. Saya juga tidak menolong kakek. Tapi terima kasih, Kek. Baru kali ini saya mempunyai uang sebesar itu, meski hanya semalam.” ujar gadis itu tulus.
Kakek itu tersenyum. Gadis kecil itu begitu murni, tapi sayang ia terlalu banyak berkeluh kesah.
”Siapa namamu?”
”Bunga, Kek.”
”Orangtuamu?”
”Saya tidak tahu siapa ayah saya, tapi ibu saya meninggal setahun lalu. Karena belum cukup usia saya mau dititipkan ke panti asuhan. Tapi daripada di tempat menyeramkan seperti itu. Lebih baik di sini saja.”
Kakek itu mengangguk. Tangan kanannya membelai kepala gadis kecil itu.
”Bunga, uang itu untukmu. Kalau kau tidak mau menggunakannya, anggap saja kakek titip padamu. Boleh?”
Bunga terdiam ragu, tapi kemudian a mengangguk.
”Tapi jika ada keperluan yang mendesak, pakailah. Sebagai gantinya boleh kakek minta sesuatu?”
Bunga mendesah pelan. Pantas saja, mana ada yang gratis di dunia ini.
”Kakek minta apa? Kakek tahu saya tidak punya apapun kecuali pakaian ini. Apa Kakek juga menginginkan pakaian saya?” tanya Bunga lemah.
Kakek itu menggeleng, ”Kau masih punya hati, Bunga. Masih ada pendirian yang kuat melebihi anak seusiamu. Itu adalah hartamu. Kau menurut untuk beristirahat kemarin, meski uang itu sama sekali tak kau gunakan. Pasti kau belum makan, ini kakek berikan. Kakek sudah kenyang.” ujarnya menyerahkan roti.
Bunga terkejut, ”Terima kasih.”
”Tapi harta milikki tak dapat membuatku kenyang, tak dapat melindungi tubuhku dari terpaan angin.” tunjuknya pada kaki kirinya.
”Tapi kau sehat.”
Bunga menoleh pada Kakek itu karena jawaban singkatnya. Tapi ia dikejutkan oleh sepasang mata miliknya.
”Tujuh tahun lalu kakek masih memiliki seorang anak. Ia cantik, seperti ibunya.”
”Maksudnya sekarang kakek kehilangan putri kakek?”
Kakek itu mengangguk, ”Kakek yang salah. Kakek mengusirnya dari rumah. Menempatkan dirinya sendirian tanpa tempat tidur, uang dan makanan.”
”Kakek mengusirnya?” tanay Bunga tak percaya. Ia menelan rotinya dengan paksa.
”Hidup ini tak rumit. Lihat saja peta, begitu banyak wilayah kecil, bisa ribuan, bisa puluhan ribu. Dan dalam setiap wilayah itu terisi begitu banyak manusia. Dalam setiap manusia terisi begitu banyak perasaan. Ada emosi, ada marah, ada sedih, ada senang. Tapi yang paling sedikit adalah rasa maaf.
Itu yang membuat kakek melupakan kasih. Menggelapkan mata karena kesalahan yang putriku perbuat. Dan menenggelamkan kakek pada kolam penyesalan.”
Setelah itu mereka berdua terdiam dalam sepi. Tak lama stasiun mulai ramai. Mereka pergi dengan pikiran masing-masing. Sedikit banyak Bunga mengerti perasaan kakek itu. Meski ia masih anak kecil, tapi kehidupan yang ia jalani mengasah tajam perasaannya.

♣ ♣ ♣

Esoknya ia bangun subuh. Ia berusaha berlari kencang dengan kaki kirinya, mencoba untuk menyeimbangkan langkahnya. Meski ia tahu waktu masih awal, ia ingin bertanya sesuatu pada kakek itu. Hasil mengemis kemarin tak banyak. Tapi setidaknya sudah dapat dibelinya sesendok nasi dengan garam. Uang pemberian dari Kakek itu masih terlipat apik di kantong celananya yang lusuh.
”Kakek!” panggilnya dari kejauhan. Kakek itu menoleh, menggerakkan tangannya untuk menyuruh gadis kecil itu mendekat. Bunga menghampirinya.
”Kau bersemangat sekali.”
Ia buru-buru mengangguk, ”Ada yang ingin kutanyakan, Kek.”
Kakek itu menatapnya dengan pandangan bingung, tapi ia segera tersenyum. ”Silahkan.”
Baru saja Bunga ingin membuka mulutnya, Kakek itu bergetar hebat. Seluruh tubuhnya kejang, dan tangan kanannya memegangi dadanya.
”Tuan Besar!” teriak seseorang berjas hitam dari jauh. Orang itu berlari secepat kilat, dan memapah Kakek pergi.
Sementara Bunga menangis melihat keadaan Kakek. Kakek tampak sangat kesakitan. Tolonglah Tuhan, Kakek orang yang baik. Selamatkan nyawanya!

♣ ♣ ♣

Keesokan harinya, Bungan berlari cepat menuju stasiun. Pikirannya melayang bertanya bagaimana keadaan Kakek saat itu, hingga ia berkali-kali terjatuh dan celananya yang lusuh dan tipis robek karena gesekan aspal. Tapi ia kembali bangun dan berlari, berdoa semoga semua baik-baik saja.
Bunga kecewa mendapati dirinya hanya sendiri di stasiun itu. Apa karena ia datang terlalu awal? Mungkin saja Kakek belum datang. Ia mencoba sebisa mungkin menenangkan dirinya. Dalam empat hari ia sudah memiliki ikatan yang dalam pada Kakek itu. Kakek itu sendirian, sama sepertinya.
”Permisi, Dik” sapa seseorang berjas hitam rapih. Dari penampilannya Bunga tahu orang itu lebih dari sekedar berkecukupan.
”Bapak, memanggil saya?”
Ia mengagguk, dan duduk di samping Bunga.
”Pak Baston sedang dirawat, ia tak dapat datang. Sebenarnya beliau adalah sahabat sekaligus klien saya. Sudah lama saya tak pernah melihatnya tersenyum.”
”Klien? Bapak siapa?” tanya Bunga bingung. Tapi ia tetap tenang, karena pria di sampingnya tetap berperilaku sopan.
”Saya pengacaranya. Pak Baston mempunyai penyakit jantung sejak kejadian itu. Anda adalah pewaris tunggal beliau.”
”Apa?!” Bunga membelalak terkejut. Apa karena ia dekat dengan Kakek sehingga Kakek memintanya menjadi pewaris? Tapi Bunga sama sekali tak menyangka, alasannya terlalu sederhana.
”Saya hanya mengobrol saja dengannya. Saya tidak menolong Kakek apapun. Kalaupun ini imbalan mengobrol. Pantaskah imbalannya, Om?”
Orang itu tidak menjawab, hanya menggeleng.
”Kau cucunya. Edelweiss Helene Prima. Prima adalah nama keluargamu, Helene adalah nama ibumu, betul?”
”Be..betul. Tapi nama saya Bunga” Bunga menjawab tergagap.
”Edelweiss itu nama aslimu, diambil dari nama bunga di wilayah Eropa. Pihak kami telah menyelidikinya, tak mungkin salah. Data-data yang kami peroleh lengkap, berikut data kesehatanmu dari Rumah Sakit Kasih. Kau pernah dirawat di sana, betul?”
Bunga mengangguk, ia ingat dirawat di sana setelah kecelakaan tabrakan itu. Pantas saja ia merasa dekat sekali dengan Kakek itu. Ikatan darah memang tak dapat dipungkiri. Ternyata beliau adalah Kakek kandungnya sendiri.
”Tak mungkin salah. Helene mengganti nama putrinya demi menyembunyikanmu.”
”Menyembunyikanku? Dari apa? Selama hidup, aku dan Mama selalu hidup tenang. Meski kekurangan, tapi Mama tak pernah berhutang.”
”Pak Baston memiliki dua putri. Ibumu adalah putri sulung, dan Bu Hilda adalah putri bungsu. Bu Hilda menolak meneruskan Prima, beliau melanjutkan pendidikannya sebagai ilmuwan, dan hingga saat ini belum berumah tangga. Kau satu-satunya ahli waris Prima Company. Ibumu telah dicoret dari nama keluarga Prima sejak ia hamil di luar nikah. Tapi bagaimanapun, dalam darahmu masih mengalir darah Pak Baston.”
Bunga membisu.
”Bisa aku bertemu dengan Kakek? Aku masih berhutang sesuatu padanya.”
Mereka tiba di Rumah Sakit setengah jam kemudian. Ruangan Kakek Baston sangat luas, tapi tak seorangpun mengunggunya dengan kasih sayang di sana. Ruangan besar itu begitu dingin, tubuh Kakek terbaring lemah di ranjang besar Rumah Sakit.
”Kakek..” sapa Bunga, pipinya basah penuh air mata ketika melihat keadaan kakeknya.
Kakek Baston tak mengatakan apapun, tapi ia tetap tersenyum melihat kedatangan Bunga.
”Kek, Bunga mau bertanya. Apa yang Kakek minta dari Bunga? Kakek masih ingat kan Kakek minta sesuatu pada Bunga. Oh iya, ini uang Kakek, masih ada, belum Bunga pakai. Tapi maaf Kek, sedikit robek. Tadi pagi Bunga terjatuh saat berlari menuju stasiun.”
Kakek Baston adalah seseorang yang kuat, ia memimpin banyak perusahaan besar. Gengsinya sangat tinggi. Tapi kali ini ia menangis, air matanya mengalir perlahan. Dirinya kini tidak lagi gagah seperti dulu.
”Maafkan Kakek telah mengusir Mamamu.”
Bunga menggeleng, ia menggenggam tangan Kakeknya sekuat mungkin. Takut kalau Kakeknya meninggalkannya sendirian. Padahal baru saja ia tahu ia masih memiliki keluarga. Bunga sudah mendengar apa yang terjadi di masa lampau dari pengacara Kakek.
”Kakek minta Bunga.. Tolong… Kembali pada keluarga Prima.Tidak apa kalau Bunga tak mau melanjutkan perusahaan. Tapi Bunga tidak boleh mengemis lagi. Bunga lihat kan yang Kakek katakan benar? Bunga masih memiliki kesehatan. Itu harta yang tak ternilai. Lihat saja, Kakek mempunyai uang untuk membeli villa mahal. Tapi apa Kakek bisa tinggal di sana sementara kesehatan Kakek buruk?”
”Kakek masih pucat, istirahat dulu, Kek.”
Kakek Baston menggeleng, ia tahu kalau tidak sekarang maka ia takkan punya kesempatan lagi. Ia sadar waktunya sudah tak lama.
”Mengenai kakimu, Kakek dengar dapat dilakukan operasi untuk memulihkannya. Pengacara Kakek yang akan mengurus semuanya.”
Uhuukk! Kakek terbatuk keras. Jantungnya kembali bereaksi, dengan segera Bunga memanggil perawat. Sepanjang penantiannya, ia berdoa. Kakek selamat atau tidak itu tergantung yang di atas. Allah memiliki rencana yang sempurna, Ia tahu yang terbaik. Bunga hanya minta agar Kakek diberikan tempat di sisi-Nya kalau memang sudah waktunya. Dengan hidup pun Kakek harus menelan berbagai obat setiap harinya, terbaring di ranjang dengan berbagai tusukan selang di sepanjang tubuhnya. Tapi Bunga tetap berharap mujizat terjadi.
Baru saja ia selesai berdoa, Bunga melihat Kakeknya melewati jalan sepanjang Rumah Sakit itu. Ia tak mengenakan pakaian biru milik Rumah Sakit. Kakek mengenakan baju putih, ia tersenyum, melambaikan tangannya pada Bunga. Gadis kecil itu tersenyum membalas, air matanya tumpah.
Dokter keluar dari ruangan itu. Pengacara keluarga Prima segera menghampirinya, ”Bagaimana, Dok?”
Dokter itu menggeleng menampilkan raut sedih dan menguatkan.
Pengacara itu segera menghampiri Bunga, ”Tabah, Nak.”
”Tidak, Om. Bagaimana saya sedih kalau Kakek sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang?”
Laki-laki itu tersenyum mendengar jawaban tulus Bunga. Ia memang pantas menyandang nama keluarga Prima.
”Satu lagi, Om.”
Perkataan tiba-tiba gadis itu membuatnya sedikit tersentak.
”Saya akan meneruskan bisnis yang telah Kakek bangun. Saya akan sekolah bisnis.”
Operasi yang dijalani Bunga berjalan sempurna. Bunga memimpin Prima Company beserta ribuan perkerja di bawahnya dengan sukses. Perusahaan itu maju pesat, dan ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang dermawan. Setiap tahun lima persen dari pendapatannya sendiri disumbangkan pada mereka yang tak seberuntung dirinya.

Aspirasi Gembok

Aspirasi Gembok

Kembali diingatkan kepada fungsi partai politik pada awalnya, untuk mewakili aspirasi pada pemerintah. Meski berpanjang lebar ketika definisi dituliskan, tetapi intinya ya itu (pada awalnya). Kemungkinan dibuatnya sebuah partai politik itu karena adanya kesadararan, bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan, maka parpol telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.

Aspirasi bisa dikategorikan sebagai pro atau kontra, kubu koalisi atau oposisi. Oposan pemerintah saat ini yang dinilai paling efektif adalah pers. Inti permasalahnya terletak pada Undang-Undang Rahasia Negara yang dapat dikatakan ‘mencekik pers’ dalam bertindak. Selama ini pers berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat yang disalurkan kepada pemerintah atau sebaliknya. Tetapi jika pers itu sendiri dibatasi, bagaimana dapat pers mengucapkan kejujuran? Padahal kita tahu, kebanyakan kejujuran adalah pahit. Hal-hal yang seharusnya tidak dihumbarkan, tetapi malah menjadi makanan publik. Tapi itu fakta! Pers bukan mengobrol, pers berkerja secara informatif, ada landasan fakta. Mengenai masalah objektivitas memang sukar diputuskan, tetapi darimana masyarakat dapat bergerak dalam aspirasi mereka jika mulut mereka dibungkam peraturan yang kembali membungkam demokrasi.

Partisipan aspirasi saat ini berfungsi sebagai gembok. Mengunci rapat rumah, sehingga apa yang dilakukannya di dalam menjadi terselubung atau tidak, tak dapat diketahui orang luar. Seperti panggung sandiwara yang melakonkan pertunjukannya dengan tirai tertutup, sehingga hanya auditori  audiens yang mendengar, dan menebak apa yang tengah berlangsung, tanpa visual sebagai bukti.

 

 

Oleh : Lupita

Euforia si Partai Biru

Euforia si Partai Biru

 

Si Partai Biru, disebut untuk menghindari penggunaan subjek secara langsung, diharapkan pembaca mengerti terlebih dulu mengenai subjek tersebut sebelum membaca lebih jauh mengenai tulisan ini.

Si Partai Biru, atau si Partai Penguasa tengah berada di atas angin. Kedudukannya yang ternyata menang mutlak di lembaga legislatif maupun eksekutif di termit kedua ternyata membawa keuntungan besar-besaran. Terlebih kemenangan Ichal sebagai Ketua Umum Partai ‘Kuning’ telah membalut luka dari pernyataan yang dilontarkan Mantan Ketua Umum sebelumnya, Jusuf Kalla. Kemenangan Ichal dengan perolehan suara sebesar 294 tersebut membawa pengaruh yang cukup signifikan dari barrier kedua kubu Si Biru dan Si Kuning. Pasalnya, Ichal sebagai tokoh pendukung partai yang dimenangkan pemilu tersebut banyak ikut andil dalam kegiatan pemerintahan. Secara otomatis, kemenangan Ichal membawa makna positif tersendiri terhadap Si Partai Biru.

Maka semakin kuat Partai Biru berkibar di singgasananya, selain bertapak tepat di kedua kakinya, kini ia mendapat angin segar dengan kemenangan Ichal. Tetapi sebagian masyarakat menilai, kekuatan Partai Biru yang begitu superior akan sulit dikontrol untuk masa ke depan. Bukankah dengan kemenangan mutlak di legislatif dan eksekutif sekaligus telah menimbulkan sedikit ketakutan? Kini hal itu ditambah pula dengan kemenangan Ichal yang notabene pro pemerintah. Beberapa tokoh menilai keprioritasan itu justru akan mengendorkan pengontrolan terhadap pemerintah, yang akhirnya dapat terefleksi melalui kejayaan Partai Repulik pada kepemimpinan George W. Bush.

Euforia Si Partai Biru telah berlangsung, ditandai dengan menguatnya mata uang Rupiah. Kekuatan ekonomi di Indonesia tetap stabil, dan investor mulai mengalirkan uang panasnya. Saham di Indonesia, maupun inflasi menunjuk angka positif. Ditambah dengan pembayaran utang negara dan APBN yang terdistibusi lebih ketat, maka semakin jayalah dia.

Tidak menutup kemungkinan pula pihak-pihak independen, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pers yang bertugas sebagai watchdog pemerintah semakin kehilangan suaranya untuk mengajukan koreksi terhadap pemerintah. Ditambah dengan pernyataan sebelumnya bahwa Si Partai Biru juga menguasai lembaga legislatif, semakin menjadi menyeramkam jika dipikirkan ke depan mengenai kontrol pemerintah. Lantas siapa yang menjadi pengendali sebenarnya?

Maka dari itu saya mengkritisi mengenai perpu kebebasan pers. Akan lebih baik jika kebebasan pers tersebut tidak diamandemen atau disahihkan. Menurut saya, pengontrol pemerintah yang paling ampuh untuk saat ini adalah pers. Pers akan menjadi pintu menuju ke luar dunia yang baru, yang sebelumnya hanya dapat kita pandang melalui jendela. Tetapi melalui pers sebagai pintu, kita dapat melewati dan menjumpai secara langsung apa yang hadir, dan apa yang hanya berfungsi sebagai ‘cap’ di atas kertas.

Kebebasan pers tetap penting, tetapi perlu batasan dan artian yang jelas. Jika sudah diamandemen dan diberi hak mengenai kebebasan, ketakutan terbesar adalah pers menangkapnya sebagai wajah baru peraturan pers. Pers yang demikian, takutnya malah akan dipergunakan oleh pihak-pihak terntentu guna menyalurkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Dalam artian sempit, mereka yang memunyai media massa lah yang dapat menggerakan kepentingannya, dan etika dan pers yang elegan akan menjadi disfungsional.

Kembali pada kejayaan Si Partai Biru, jangan terlalu terlena pada kemenangan karena masih banyak oposisi yang perlu mendapat perhatian lebih. Takutnya, hal tersebut malah menjadi antagonis membahayakan yang memecah kesatuan.

 

 

Oleh     :           Lupita Wijaya

Kisah Yu Yuan

Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah “Saya pernah datang dan saya sangat penurut”. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 Imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan.” Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang
anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu
memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima
tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju,
memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia
sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang
orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya
mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang
anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke sebuah Puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar… “Papa saya ingin mati”.

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menanda tangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.
Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto ini”.
Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli
baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah.
Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian
menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terkumpul 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati.. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan, anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan, anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu
kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.
Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum
suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu.
Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil
dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”.
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan
melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Ia pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana.
Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua
orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati.” Yu Yuan kemudian berkata : “Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati.” Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik…
Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu
Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada
ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,??. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

“Saya pernah datang, saya sangat patuh,” demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya.. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air sungguh telah pergi ke dunia lain..

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah?????” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis.
Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.
Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 Nov 1996- 22 Agustus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambangpun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Moderenitas Sejati Menyangkut Hedonisme dan Gaya Hidup Instan

 

Peradaban manusia terus berkembang. Mereka melihat hidup dari kacamata ekonomis, dan hasrat yang harus segera dipenuhi. Permukaan dalam suatu dinamika terkadang menampilkan hal positif, di mana perilaku-perilaku manusia menatap pada sebuah kancah alasan efisiensi. Namun mengapa hal yang bermula dari efisiensi dapat menimbulkan sebuah kausalitas?

Pendapat-pendapat mulai bermunculan. Persis seperti yang dikemukakan Aristoteles bahwa manusia mempunyai hasrat untuk tahu. Banyak orang berspekulasi bahwa moderenitas buah dari pengetahuan berlebih. Saya menjawab, tentu saja. Tetapi tergantung bagaimana si pemikir menempatkan pola kausalitas dalam eksistensinya sendiri di dunia. Bahwa seseorang akan berkembang pikirannya seiring dengan dinamika zaman.

Moderenitas menyangkut hedonisme dan gaya hidup instan. Dalam segi tingkat kebutuhan, kini primer, sekunder, dan tersier memiliki seorang teman baru. Kebutuhan hasrat. Semata hanya berfungsi untuk kepuasan sesaat. Hedonisme sendiri bermakna bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia harus dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi manusia. Pantas saja perilaku konsumen semakin menggila. Perilaku yang mengatasnamakan merk, kekuasaan, dan kenikmatan semata.

Dampak negatifnya muncul ideologi bahwa formalitas kini menjadi segalanya, hal terpenting bagi dirinya adalah images yang di mana mereka dapat menyalurkan hasrat. Contoh tindakan hedonisme sekarang muncul dalam beragam tindakan aktivitas, mulai dari penomorsatuan sebuah merk, hingga free sex.

Gaya hidup instan sendiri merupakan dampak langsung dari eksistensi teknologi yang semakin mutakhir. Keberadaan telepon, internet ternyata sangat memengaruhi pola pikir kita. Sekarang seseorang hanya perlu mengangkat telepon untuk menghubungkan dirinya dengan orangtuanya yang berada jauh di sana. Karena kesibukan yang menghipnotis, telepon atau internet pasti menjadi alternatif terpraktis dalam berkomunikasi. Tak lepas dari itu, lama-kelamaan kunjungan langsung menjadi berkurang. Pembicaraan via telepon mengurangi frekuensi dan sering terjadi salah presepsi. Padahal pertemuan tatap muka penting, karena dalam berkomunikasi via email atau telepon, komunikasi verbal (berkata-kata) kita pasti menjadi terbatas, dan komunikasi non-verbal seperti bahasa tubuh, tatapan tidak tertampilkan. Hal seperti itulah yang kini menyebabkan individualistis. Gaya hidup instan yang kemudian mengubah cara pandang kita yang terutama berkutat dengan kesibukan tingkat tinggi.

Kecukupan materi tak menjamin seseorang merasa lengkap dalam hidupnya. Anda pribadi yang menilai bagaimana seseorang akan maju dalam pikiran. Bukan terus-menerus menomorsatukan teknologi. Terkadang cara pandang konvensional dapat membuka kembali pilihan-pilihan yang semula sempit.

 

 

Oleh    :    Lupita

Tulisan Sebelumnya »